Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kearifan Lokal: Tradisi dan Upacara Adat di Yogyakarta yang Masih Hidup

Meitika Candra Lantiva • Jumat, 28 Juni 2024 | 23:30 WIB
Warga berebut gunungan saat grebeg Syawal yang digelar Kraton Jogjakarta di Halaman masjid gedhe Kauman, Jogja, Sabtu (22/4). Tradisi grebeg syawal merupakan rangkaian peringatan idul fitri 1444 H. Dalam grebeg kali ini digelar secara terbuka setelah 3 ta
Warga berebut gunungan saat grebeg Syawal yang digelar Kraton Jogjakarta di Halaman masjid gedhe Kauman, Jogja, Sabtu (22/4). Tradisi grebeg syawal merupakan rangkaian peringatan idul fitri 1444 H. Dalam grebeg kali ini digelar secara terbuka setelah 3 ta

RADAR JOGJA - Yogyakarta, kota yang terkenal dengan sebutan “Kota Pelajar,” tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga sebagai penjaga kearifan lokal yang kaya akan tradisi dan upacara adat.

Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, Yogyakarta berhasil mempertahankan budaya dan tradisi yang menjadi identitasnya serta terus mengenalkan budayanya pada masyarakat luas.

Berikut adalah beberapa tradisi dan upacara adat yang masih hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Yogyakarta.


1. Sekaten


Sekaten adalah upacara adat yang diadakan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dilaksanakan setiap tahun di alun-alun utara Keraton Yogyakarta, Sekaten diawali dengan iring-iringan gamelan sekaten dari keraton menuju masjid.

Selama sepekan, masyarakat dapat menikmati berbagai kegiatan budaya, pasar malam, dan kuliner khas.

Puncak dari upacara ini adalah Grebeg Maulud, dimana gunungan hasil bumi diarak dan diperebutkan oleh warga sebagai simbol berkah dan kesejahteraan.


2. Labuhan


Labuhan adalah upacara adat yang dilaksanakan oleh Keraton Yogyakarta di Pantai Parangkusumo dan Gunung Merapi.

Upacara ini bertujuan untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi Sultan dan seluruh rakyatnya.

Labuhan melibatkan persembahan sesaji berupa kain, makanan, dan benda-benda lainnya yang dilarung ke laut atau gunung.

Tradisi ini mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam yang dijaga oleh masyarakat Yogyakarta.


3. Mubeng Beteng


Mubeng Beteng atau mengelilingi benteng adalah tradisi yang dilakukan setiap malam 1 Suro dalam penanggalan Jawa.

Masyarakat bersama-sama berjalan kaki mengelilingi benteng keraton sebagai simbol introspeksi diri dan memohon perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Kegiatan ini dilakukan dalam suasana hening dan khusyuk, menunjukkan rasa hormat dan kekhidmatan terhadap tradisi leluhur.


4. Nyadran


Nyadran adalah tradisi yang dilakukan menjelang bulan Ramadhan.

Masyarakat mengunjungi makam leluhur untuk membersihkan makam dan berdoa bersama.

Selain itu, mereka juga mengadakan kenduri atau makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Nyadran menggambarkan nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong yang kuat di kalangan masyarakat Yogyakarta.


5. Tingalan Jumenengan Dalem


Tingalan Jumenengan Dalem adalah upacara adat yang memperingati hari penobatan Sultan Yogyakarta.

Upacara ini diadakan di Keraton Yogyakarta dengan rangkaian acara yang melibatkan berbagai tarian sakral, persembahan, dan ritual adat.

Tingalan Jumenengan Dalem menegaskan posisi Sultan sebagai pemimpin spiritual dan simbol persatuan bagi rakyat Yogyakarta.


Tradisi dan upacara adat ini tidak hanya menjadi warisan budaya yang berharga, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal yang mampu bertahan di tengah dinamika zaman.

Keberhasilan Yogyakarta dalam menjaga tradisi ini menunjukkan betapa kuatnya nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan tetap melestarikan kearifan lokal, Yogyakarta tidak hanya menjaga identitasnya, tetapi juga memberikan inspirasi bagi daerah lain untuk tetap bangga akan budayanya sendiri.


Melalui artikel ini, diharapkan masyarakat semakin mengenal dan menghargai tradisi serta upacara adat yang ada, sehingga kekayaan budaya Yogyakarta dapat terus lestari dan menjadi kebanggaan bersama. (Sergio Jubilleum Asqueli)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Tingalan Jumenengan Dalem #Yogyakarta #Mubeng beteng #labuhan #nyadran #upacara adat #masih hidup #modernisasi #1 suro #sekaten #kearifan lokal