Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kenalkan Filosofi Motif Batik Larangan

Editor Content • Sabtu, 29 Oktober 2022 | 17:07 WIB
Pengunjung mengamati beragam batik yang dipamerkan di Dome Area, Gedung Oval Taman Pintar, Jogja, Jumat (28/10). Taman Pintar kembali menggelar pameran batik Keraton Jogja dan Kadipaten Pakualaman. Total ada 27 batik di gelaran pameran batik ini (foto: El
Pengunjung mengamati beragam batik yang dipamerkan di Dome Area, Gedung Oval Taman Pintar, Jogja, Jumat (28/10). Taman Pintar kembali menggelar pameran batik Keraton Jogja dan Kadipaten Pakualaman. Total ada 27 batik di gelaran pameran batik ini (foto: El
RADAR JOGJA - Taman Pintar (Tampin) Jogja menggelar pameran batik bertajuk Adiwastra Narawita: Kain Indah Sang Raja. Penyelenggaraan berlangsung di Dome Area Gedung Oval Tampin, 28 Oktober-3 November 2022. Menyasar pengunjung Tampin, pelaksanaan diharap jadi wadah edukasi pengenalan filosofi motif batik larangan.

Putri Raja Keraton Jogjakarta Hamengku Buwono (HB) X, GKR Bendara mengatakan, batik telah diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO sejak 2009. Jogja pun telah ditetapkan sebagai Kota Batik Dunia oleh WCC (World Craft Council).

“Batik warisan budaya yang wajib dilestarikan. Semoga pameran ini dapat mengenalkan, khususnya pada generasi alfa, agar bisa menghargai karya leluhur,” ujarnya dalam sambutan pameran kemarin (28/10).

Dalam gelaran pamer batik yang ketiga ini, Keraton Jogjakarta mengeluarkan koleksi batik larangan atau awisan ndalem. Menampilkan motif-motif batik yang penggunaannya terikat dengan aturan-aturan tertentu di Keraton Jogjakarta. Lantaran tidak semua orang boleh memakainya. “Semisal saat berwisata atau menghadiri hajad dalem di Keraton Jogjakarta,” jelasnya.

Batik larangan dilatarbelakangi oleh keyakinan adanya kekuatan spiritual maupun makna filosofi yang terkandung dalam motif. Maka kain batik dipercaya mampu menciptakan suasana yang religius serta memancarkan aura magis, sesuai dengan makna yang dikandungnya.

Oleh karena itu beberapa motif kain batik, terutama yang mempunyai nilai falsafah tinggi, dinyatakan sebagai batik larangan. “Harapannya ada apresiasi, karena tiap kain batik memiliki filosofi yang berbeda,” ujarnya.

Selanjutnya dikatakan, pameran Adiwastra Narawita sejalan dengan upaya Keraton Jogjakarta dalam mengedukasi masyarakat. Baru-baru ini, Keraton juga luncurkan e-book Batik Radyo Kartiyoso yang penyusunannya membutuhkan waktu satu tahun. “Karena batik kita gunakan sejak lahir sampai meninggal,” ucapnya.

Pemeran juga menampilkan batik dari Kadipaten Pakualaman bertema Dhaup Ageng Pakualaman: Kemilau Sang Surya Mulyarja. Batik merupakan bagian dari seri Asthabrata koleksi Kadipaten Pakualaman. Motif ini tercipta berdasarkan iluminasi tentang Batara Surya dalam naskah Sestradisuhul dan Sestra Ageng Adidarma.

Penjabat (Pj) Wali Kota Jogja Sumadi mengapresiasi Pameran Batik Adiwastra Narawita ini. Sebab dalam perhatiannya, masyarakat masih awam akan filosofi batik. “Semoga dengan adanya pameran ini, filosofi dari batik akan semakin diresapi,” sebutnya.

Sumadi juga menegaskan pentingnya edukasi pada nilai budaya luhur yang terkandung dalam lembaran kain batik. Mengingat Kota Jogja merupakan Kota Budaya dan Kota Pelajar. “Maka harus disosialisasikan. Semoga filosofi luhur melalui karya batik bisa ditangkap oleh masyarakat,” tandasnya. (fat/laz) Editor : Editor Content
#taman pintar #Pameran Batik