KOLABORASI DUA NEGARA: Layang-layang raksasa yang diikatkan pada 19 balon helium yang menjadi kelir wayang dalam Festival Printemps Français 2016.
Terkendala Bahasa, Mampu Tunjukkan Kolaborasi Apik
Festival Printemps Français rutin hadir setiap tahunnya di Indonesia. Wajah dan konsep baru terus ditawarkan untuk melihat sejauh mana perkembangan seni budaya di Perancis. Berbeda dari sebelumnya, tahun ini ada berkolaborasi dengan seniman Indonesia.
DWI AGUS, Jogja
SUASANA berbeda begitu terasa di Jogja National Museum (JNM), Kamis malam (28/4). Halaman yang biasanya sepi mendadak hingar bingar oleh penikmat seni. Merupakan malam istimewa, ini karena Jogjakarta menjadi tuan rumah pembuka gelaran Festival Printemps Français 2016.
Seniman dua negara mencurahkan kreativitas mereka dalam pertunjukan L'Oiseau atau The Bird yaitu wayang layang-layang raksasa. "Tahun ini kami ingin menggarisbawahi kerja sama budaya antara Perancis dan Indonesia," kata Konselor Kerja Sama dan Kebudayaan Kedubes Perancis di Indonesia Marc Piton.
Menurutnya, Jogjakarta dipilih karena merupakan simpul dari seni dan budaya di Indonesia. Marc menuturkan, acara yang diinisiasi oleh Institute Francais d'Indonesie (IFI) dan didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation menghadirkan kolaborasi yang tidak biasa.
Pria yang juga menjabat Direktur Institut Prancis di Indonesia (IFI) ini menilai Festival Printemps Français terus menunjukkan dinamika setiap tahunnya. Saat ini telah memasuki tahun ke dua belas, perwajahan seni budaya terus berkembang. Terutama mengabarkan bagaimana dinamika seni di Perancis saat ini.
Dia berharap agar direktur-direktur IFI di seluruh Indonesia menjalin kerja sama yang erat. Terutama dengan para seniman dan pelestari budaya lokal. Kolaborasi-kolaborasi ini bertujuan membuka ruang komunikasi dan diplomasi melalui seni dan budaya.
Wayang layang L'Oiseau sendiri menghadirkan kolaborasi antara kelompok Les Rémouleurs yang beranggotakan Gallia Vallet, Olivier Vallet, dan Anne Bitran dengan seniman Indonesia. Para seniman Indonesia yang terlibat di antaranya Bob dari komunitas Marjinal Kolektif Jakarta, Heri Dono, Rangga Jadoel dan Sugeng Utomo dari Jogjakarta, Gepeng Dewantoro dan Wayang Motekar dari Bandung.
Karya ini menyajikan layang-layang raksasa yang diikatkan pada 19 balon helium raksasa. Selanjutnya, layang-layang ini digunakan sebagai kelir wayang. Bayang-bayang cerita pewayangan ditembakkan melalui dua proyektor yang dikomandani oleh Herry Dim dari Indonesia dan Olivier Vallet dari Perancis.
Sementara itu, untuk meliuk-liukan badan layang-layang melibatkan empat dalang. Di antaranya Ibrahim Adi dan Rangga Jadoel dari Indonesia serta Gallia Vallet dan Anne Bitran dari Perancis. Bayang-bayang ini menceritakan tentang dinamika kehidupan saat ini.
Untuk menghadirkan karya ini tentunya bukan tanpa kendala. Titik utama untuk menghadirkan karya ini adalah kerja sama antara seniman lintas negara. Bahasa tentu menjadi salah satu kendala utama menghidupkan karya.
Ini diakui sendiri oleh Ibrahim Adi selama proses kreatif berlangsung. Meski begitu, hal tersebut tidak menghalangi para seniman untuk menghadirkan karya ini. Terlebih komunikasi dan koordinasi sangat penting untuk kolaborasi karya L'Oiseau ini.
"Ini adalah sebuah wayang layang raksasa dengan ukuran sayap mencapai delapan meter," ucap Ibrahim.
Burung raksasa berwarna putih ini memang dibuat layaknya burung sesungguhnya. Setiap sayapnya fleksibel sehingga bisa bergerak dengan bebas. Gerakannya kadang melayang ke langit, beberapa kali juga menukik ke tanah.
Penonton yang hadir tak melewatkan kesempatan ini. Beberapa di antaranya mengabadikan melalui lensa kamera atau handphone mereka. Suasana hening menyeruak. Kemudian terdengar alunan musik dari grup musik Senyawa yang beranggotakan Rully Shabara dan Wukir Suryadi.
Kelompok Les Rémouleurs sendiri telah meraih berbagai penghargaan. Mulai dari Liquid Mirror, Arts Prize 2009, Cyclop/Camera Lucida dan Louis Jouvet Prize 2002. Karya dengan durasi 55 menit ini sendiri pun memerlukan proses yang tidak sebentar.
Mereka pun mengawali dengan program kerja bersama seniman Jogjakarta yang difasilitasi IFI Jogjakarta pada 3 hingga 15 Maret lalu. Pendekatan sendiri telah dilakukan sejak Oktober 2015. Mulai dari bertemu seniman dari Komunitas Marjinal dan Wayang Motekar. (ila) Editor : Administrator