Manuskrip Merapi-Merbabu di Magelang Simpan Misteri Literasi Kuno

Naila Nihayah • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 14:47 WIB
ARSIP SEJARAH: Naskah yang tertulis di daun lontar ini belum bisa dibaca. (Dok: Joko untuk Radar Jogja)
ARSIP SEJARAH: Naskah yang tertulis di daun lontar ini belum bisa dibaca. (Dok: Joko untuk Radar Jogja)

 MUNGKID - Di lereng Gunung Merbabu, tepatnya di Dusun Kedakan, Kenalan, Pakis, Kabupaten Magelang tersimpan sejarah yang belum sepenuhnya terungkap. Terdapat satu bendel naskah daun lontar yang hingga kini belum bisa dibaca, bahkan oleh para peneliti sekalipun. 

Berdasarkan penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), total ada lebih dari 1.400 manuskrip serupa yang diyakini berasal dari tempat itu justru tersebar dan sebagian tersimpan di Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Manuskrip itu menandakan jejak peradaban literasi kuno di kawasan Merapi-Merbabu.

Satu di antaranya berada di Dusun Kedakan, Kenalan, Pakis yang disimpan dalam peti kecil bersama pusaka wayang. Lontar itu hanya terdiri dari satu bendel berisi sekitar 35 lembar. Namun hingga kini, belum ada yang mampu membaca secara pasti isi tulisan di dalamnya.

Kepala Desa Kenalan, Joko Santoso mengutarakan, upaya pembacaan sudah beberapa kali dilakukan, termasuk oleh mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi. Namun hasilnya tidak konsisten.

Baca Juga: Unik dan Mengocok Perut! Video Edukasi Damkarmat Gunungkidul Banjir Pujian Netizen: 'Informasi Paling Joss!'

"Dulu pernah ada penelitian dari mahasiswa UI, UGM, sampai IPB. Tapi setiap tahun dibaca, hasilnya berbeda-beda. Seolah tulisannya berubah," ujar dia di kantornya, Selasa (21/7).

Dia menyebut, tulisan pada lontar itu bukan berupa tinta, melainkan goresan seperti ukiran pada daun yang tipis. Anehnya, meski diukir di kedua sisi, tulisan tersebut tidak tembus. 

Secara kasat mata, kata Joko, bentuk aksaranya disebut menyerupai tulisan Jawa kuno bernuansa Hindu-Buddha. Tim dari BRIN sempat membandingkan lontar Kedakan dengan koleksi di Perpusnas.

Hasilnya, ditemukan kemiripan pola tulisan. Dari situlah muncul dugaan kuat bahwa naskah di Kedakan merupakan bagian dari jaringan manuskrip besar Merapi-Merbabu.

Baca Juga: Detik-Detik Mencekam Anak Meisya Siregar Terseret Ombak di Bali: Diselamatkan 'Baba' Farhad dan Lifeguard Setempat

"Dari penelitian, diperkirakan ada sekitar 1.486 naskah. Dan semuanya mengarah berasal dari Kedakan, ditandai dengan nama Ki Hajar Doko," kata Joko.

Dia menjelaskan, bama Ki Hajar Doko disebut berulang dalam berbagai manuskrip sebagai penanda atau 'tanda tangan' penulis. Sosok ini diyakini sebagai tokoh di padepokan Kedakan, yang diduga hidup sekitar abad ke-14 atau era Majapahit.

Bahkan, lanjut Joko, jejak manuskrip tersebut tidak hanya ditemukan di Magelang. Beberapa naskah juga ditemukan di kawasan Gunung Salak, Gunung Wilis, hingga Gunung Arjuna, namun tetap mencantumkan nama yang sama.

Joko melanjutkan, naskah lontar yang tersisa di Kedakan tetap dijaga sebagai pusaka. Disimpan oleh seorang dalang bernama Supoyo. Bahkan, lontar tersebut dibungkus kain mori dan diletakkan dalam peti kayu tradisional tanpa paku maupun lem. Perawatannya juga mengikuti tradisi lokal yang sarat unsur spiritual.

Baca Juga: Truk Tabrak Palang Perlintasan, KAI Daop 6 Kecam Pengemudi yang Terobos JPL

Dalam setahun, pusaka tersebut hanya dikeluarkan pada waktu-waktu tertentu, seperti bulan Syawal dan Safar, bersamaan dengan ritual pewayangan. Tradisi ini diyakini sebagai bagian dari cara menjaga keseimbangan antara warisan budaya, spiritualitas, dan alam.

Di sekitar lokasi penyimpanan, lanjut dia, terdapat pula situs padepokan dan makam yang diyakini berkaitan dengan Ki Hajar Doko. Jaraknya hanya sekitar 50 meter, berada di lereng dengan lanskap khas Merapi.

Ditemui terpisah, Bupati Magelang Grengseng Pamuji menyebut, temuan ini sebagai bukti kuat bahwa wilayah tersebut pernah menjadi pusat literasi dan ilmu pengetahuan. Dari informasi yang diperoleh, manuskrip ini berisi pengobatan, astronomi, pertanian, sastra, hingga astrologi.

"Ini bukan sekadar warisan budaya, tapi juga kekayaan ilmu pengetahuan," lontarnya.

Baca Juga: Anisa Bahar Balas Klarifikasi Icha Chellow Cs dengan Gaya yang Sama Persis, Drama Lagu "Gapapa"

Menurut Grengseng, manuskrip tersebut berkembang pada kisaran abad 13 hingga 15 Masehi, yang menjadikannya sebagai jembatan antara era Jawa Kuno dan masa awal perkembangan Islam di Jawa.

"Kalau Borobudur itu bukti fisik peradaban, maka manuskrip ini adalah bukti intelektualnya," sebutnya.

Namun hingga kini, kata dia, dari ratusan manuskrip yang tersimpan, baru sekitar 15 naskah yang berhasil diterjemahkan. Sementara sisanya masih menjadi pekerjaan besar para filolog dan peneliti.

Grengseng menambahkan, pemkab mulai mendorong kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset untuk mempercepat proses penerjemahan. Selain itu, upaya untuk mendapatkan salinan manuskrip yang tersebar, termasuk yang berada di luar negeri seperti Belanda, juga mulai dijajaki.

"Harapannya minimal kita punya salinan atau terjemahannya, sehingga generasi sekarang bisa memahami sejarah leluhurnya," terang Grengseng. (aya)

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
merapi merbabu literasi kuno Magelang sejarah Manuskrip