RADAR JOGJA - Masjid Jogokariyan punya sejarah panjang dalam syiar Islam.
Masjid ini selalu ramai kunjungan terutama saat bulan suci Ramadan.
Berbagai program pengajian hingga kajian selalu rutin digelar.
Saat Ramadan masjid ini mengundang banyak jamaah.
Selain tempat beribadah juga menyediakan menu takjil buka puasa.
Tak tanggung-tanggung, saban hari penuh masjid ini selalu menyediakan ribuan porsi hidangan siap santap.
Sejarah Masjid Jogokariyan
Jauh sebelum menjadi kampung santri, Jogokariyan pra-1967 adalah basis kaum 'Abangan' yang kental dengan tradisi Kejawen warisan prajurit Keraton.
Ketiadaan masjid memaksa syiar Islam berpusat di sebuah langgar sempit di RT 42 RW 11.
Namun, fasilitas sederhana itu pun seringkali kosong melompong.
Kuatnya pegangan masyarakat pada budaya leluhur membuat langgar tersebut sepi kegiatan, bahkan di momen sakral seperti bulan Ramadan.
Dibuka sejak masa Hamengkubuwono IV, Kampung Jogokariyan awalnya adalah palungguhan atau tempat tinggal bagi Abdi Dalem Prajurit dari Kesatuan “Jogokariyo” yang direlokasi dari Benteng Baluwerti.
Nama kampung ini diambil secara toponimi dari nama kesatuan yang mendiami wilayah di utara Panggung Krapyak tersebut.
Era Hamengkubuwono VIII menandai titik balik drastis: fungsi prajurit digeser dari tempur menjadi sekadar seremonial/upacara, disertai pemangkasan personel dari 750 menjadi 75 orang.
Rasionalisasi besar-besaran ini berdampak telak, memaksa ratusan abdi dalem kehilangan jabatan dan mata pencaharian seketika.
Gegar budaya melanda para eks-prajurit yang terbiasa hidup mapan namun lekat dengan maksiat seperti judi dan madat (nyeret).
Hilangnya gaji rutin membuat mereka beralih profesi menjadi petani bermodal tanah pelungguh.
Sayangnya, kegagalan beradaptasi membuat banyak aset tanah akhirnya dilego kepada para juragan batik dan tenun dari Kampung Jogokariyan demi menyambung hidup.
Terjadilah perubahan sosial ekonomi yang cukup membuat syok warga.
Kampung Jogokariyan mulai berubah jadi kampung batik dan tenun, generasi anak-anak Abdi Dalem terpaksa bekerja jadi buruh di pabrik-pabrik Tenun dan Batik.
Kejayaan industri batik justru menjadi masa kelam bagi keturunan prajurit Jogokariyan yang terperosok menjadi buruh kasar.
Kesenjangan tajam antara warga asli bergelar bangsawan dan pengusaha pendatang ini dimanfaatkan secara strategis oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk mengagitasi massa menggunakan isu konflik kelas buruh dan majikan.
Jogokariyan sempat menjadi lumbung suara PKI akibat himpitan ekonomi warga, berkontradiksi dengan para juragan yang merapat ke PNI dan minoritas Masyumi.
Namun, prahara 1965 menjadi titik balik; di tengah trauma penangkapan massal, berdirinya Masjid Jogokariyan hadir sebagai “oase rekonsiliasi”.
Masjid ini sukses berperan sebagai agen perubahan sosial, menyulap basis 'kiri' dan abangan menjadi masyarakat santri yang solid.
Proses Pembangunan Masjid Jogokariyan
Inisiasi pembangunan bermula dari visi H. Jazuri, pengusaha batik dari Karangkajen, yang menggandeng tokoh ummat dan masyarakat seperti Bapak Zarkoni (waktu itu belum haji), H Amin Said (satu-satunya warga yang sudah haji tahun 1957), Bapak Hadi Sutarno, Bapak Abdulmanan, Ibu Margono hingga KRT Widyodiningrat.
Uniknya, masjid ini tidak berdiri di atas tanah wakaf, melainkan hasil murni gerakan kolektif warga yang menggalang dana untuk membeli lahan secara mandiri.
Suntikan dana akhirnya datang dari Koperasi Batik 'Karang Tunggal' dan Tenun 'Tri Jaya', basis ekonomi simpatisan Masyumi dan Muhammadiyah.
Dukungan ini membuahkan hasil nyata pada Juli 1966 dengan keberhasilan mengakuisisi lahan seluas 600 meter persegi.
Demi posisi yang lebih monumental di jantung kampung, panitia memutuskan memindahkan lokasi pembangunan ke perempatan jalan utama.
Melalui negosiasi tukar guling dengan pemilik lahan, Bpk Sukadis, kesepakatan strategis tercapai: tanah di pusat kampung diserahkan untuk masjid dengan kompensasi pembangunan rumah permanen bagi keluarga Bpk Sukadis dan tanah Bpk Sukadis menjadi lokasi pendirian Masjid Jogokariyan.
Peletakan batu pertama pada 20 September 1965 menandai dimulainya konstruksi bangunan seluas 135 m² di atas lahan hasil tukar guling.
Dua tahun berselang, tepat pada momentum HUT RI ke-22 di bulan Agustus 1967, Masjid Jogokariyan pun resmi beroperasi setelah disahkan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta.
Sejarah Manajemen Masjid Jogokaryan
Di bawah arahan Almarhum Ustadz HM Jazir ASP, manajemen Masjid Jogokariyan bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu Pemetaan, Pelayanan, dan Pemberdayaan.
Dalam aspek pemetaan, takmir melakukan sensus tahunan komprehensif untuk membedah anatomi sosial-spiritual warga.
Hasilnya adalah peta dakwah riil yang memuat data rinci, memisahkan siapa yang aktif berjamaah, partisipasi zakat, hingga potensi keahlian profesional warga sebagai basis intervensi dakwah yang tepat sasaran.
Peta Dakwah Jogokariyan menyajikan pemetaan visual yang mendetail, setiap rumah diberi kode warna dan ikon spesifik seperti Unta (sudah qurban), Ka’bah (sudah berhaji), terakhir koin (sudah berzakat), guna memudahkan penetrasi dakwah.
Data ini juga menjadi basis kebijakan ekonomi masjid yang 'anti-monopoli'; alih-alih membuat unit bisnis tandingan, masjid justru menyerap produk jamaah untuk segala kebutuhan, termasuk sistem giliran pesanan katering bagi ribuan tamu. (Muhammad Aryo Witjaksono)
Editor : Meitika Candra Lantiva