Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Teteg Tugu Jogja Berusia 138 Tahun! Palang Kereta Geser Bersejarah yang Menyimpan Filosofi Sumbu Imajiner

Bahana. • Senin, 13 Oktober 2025 | 18:39 WIB

Photo
Photo
Tak banyak yang menyadari bahwa di balik megahnya Stasiun Tugu, berdiri sebuah peninggalan berusia lebih dari seabad yang menyimpan nilai budaya tinggi.

Palang kereta geser atau teteg ini sudah ada sejak 1887, dan kini telah berumur 138 tahun. Meski sederhana, keberadaannya sarat makna dan menjadi satu-satunya di Indonesia.

Dibangun bersamaan dengan pengoperasian Stasiun Tugu oleh dua perusahaan kereta asal Belanda, teteg ini dahulu dibuat dari bahan besi.

Fungsinya adalah untuk menjaga keamanan perlintasan kereta. Namun, yang membuatnya istimewa bukanlah bentuk atau usianya, melainkan posisinya yang sengaja digeser dari jalur lurus.

Teteg Tugu terletak di garis sumbu imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Tugu Pal Putih, dan Keraton Yogyakarta.

Demi menjaga kesakralan garis imajiner tersebut, palang perlintasan ini digeser agar tidak menghalangi pandangan langsung ke arah Keraton.

Pergeseran itu merupakan bentuk penghormatan terhadap Sultan dan filosofi tata ruang Yogyakarta yang memadukan unsur alam, manusia, dan kekuasaan.

Hingga saat ini, teteg Tugu masih difungsikan, tetapi dengan batasan hanya pejalan kaki dan pesepeda yang boleh melintas.

Kendaraan bermotor dilarang melewati jalur tersebut demi menjaga nilai historis dan keselamatannya.

Warga sekitar dan wisatawan kerap berhenti sejenak untuk melihat cara kerja palang geser yang masih dijalankan secara manual.

Banyak yang kagum ketika mengetahui bahwa benda sederhana itu ternyata memiliki makna filosofis mendalam.

Lebih dari sekadar fasilitas transportasi, teteg Tugu Jogja kini menjadi simbol perpaduan antara sejarah, budaya, dan spiritualitas Jawa yang terus hidup di tengah modernitas kota Yogyakarta.

Penulis : Arsy Apriliany Munawaroh

Editor : Bahana.
#Yogyakarta #teteg tugu jogja #Kereta Api