RADAR JOGJA - Tak banyak yang tahu, Jepang yang saat ini menjadi raksasa sepak bola Asia pernah berguru dan belajar dari Indonesia.
Hal itu terjadi pada era 1960 hingga 1980-an, saat kualitas sepak bola Negeri Sakura masih dianggap di bawah standar Asia.
Berdasarkan catatan Pandit Football, timnas Jepang beberapa kali kesulitan saat melawan Indonesia.
Dalam Asian Games 1962 di Jakarta, misalnya, Jepang takluk 1-3 di tangan skuad Merah Putih.
Pertandingan tersebut menjadi sebuah momentum penting mengenai proses belajar dan transformasi yang tengah dialami Jepang.
"Saat itu hanya juggling saja, sudah dianggap cukup bagus di Jepang. Tapi kemudian, belajar dari Indonesia, dan melakukan perombakan total," ujar Tom Byer, instruktur sepakbola akar rumput yang turut diberdayakan oleh Federasi Sepakbola Jepang (JFA).
Perombakan tersebut meliputi visi, taktik, dan pengelolaan.
"Sekarang mereka mampu melangkah jauh lebih unggul di Asia,” imbuhnya.
Selain belajar dari Indonesia, Jepang juga mendatangkan beberapa pesepakbola Asia Tenggara, seperti Ricky Yacobi (Indonesia) dan Witthaya Laohakul (Thailand), untuk bermain di JSL (Japan Soccer League) dan memberikan aspek teknis yang lebih luas.
“Jepang belajar bukan hanya soal taktik dan fisik, tapi juga mengenai kerja sama tim dan visi jangka panjang. Dalam prosesnya, J League kemudian dibentuk pada 1993 dan melahirkan era profesionalisme yang saat ini menjadikan Jepang unggul di Asia dan mampu tampil di Piala Dunia setiap edisi,” ujar analisis Pandit Football.
Saat ini justru terjadi proses sebaliknya.
PSSI melakukan kerja sama dengan JFA, belajar mengenai pembinaan, pengelolaan liga, dan mencari formula untuk mencapai prestasi lebih luas.
Jepang memang pernah belajar dan berguru dari Indonesia, tapi kemudian mampu melampaui dan menjadi raksasa sepak bola Asia.
Keberhasilan tersebut bukan terjadi secara instan, melainkan merupakan proses transformasi yang melibatkan perombakan visi, taktik, manajemen, dan pembinaan akar rumput.
Pengalaman Jepang menjadi pelajaran penting bahwa kerja keras, belajar dari kesalahan, dan perencanaan matang dapat membawa sebuah tim mencapai puncak prestasi. (Muhammad Taufik)
Editor : Meitika Candra Lantiva