RADAR JOGJA - Program Jam Belajar Masyarakat (JBM) dinilai oleh pengamat pendidikan masih relevan jika diterapkan di masa sekarang. Hanya saja perlu pengawasan ketat agar proses belajar selama JBM bisa lebih efektif.
Dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Tiara Yogiarni mengatakan, JBM sebenarnya cukup efektif untuk meningkatkan kualitas pendidikan siswa. Dikarenakan siswa dapat memaksimalkan waktu luangnya untuk belajar.
Hanya saja untuk penerapan JBM di masa sekarang harus disesuaikan dengan perkembangan yang ada. Sebab dulu siswa belum mengenal teknologi berupa gadget dan internet. Sehingga siswa zaman dulu bisa lebih fokus dengan buku.
Walaupun demikian, penggunaan gadget sebenarnya bisa membantu untuk memaksimalkan JBM. Lantaran untuk sekarang sudah banyak media pembelajaran berbasis digital yang dapat diakses melalui handphone atau laptop.
Oleh karena itu, Tiara menilai, jika JBM diterapkan tentu wajib mendapat pendampingan dari orang tua. Hal itu penting agar siswa yang tengah menjalani JBM menggunakan gadget benar-benar belajar. Bukan bermain dengan HP-nya.
“Apalagi sekarang kan sudah banyak anak-anak yang kecanduan handphone, sehingga proses belajar harus diawasi atau didampingi,” ujar Tiara kepada Radar Jogja, Jumat (27/9).
Tiara menilai, penerapan JBM di masa sekarang juga harus disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa. Sebab saat ini sudah banyak sekolah yang menerapkan jam belajar dari pagi hingga sore atau full day.
Baca Juga: Tantang Persija di Sultan Agung, Bernardo Tavarez Sebut PSM Makassar Dalam Kondisi Pincang
Menurutnya, JBM jangan terlalu dipaksakan bagi siswa yang menjalani waktu belajarnya sehari penuh. Dikarenakan, siswa harus memiliki masa istirahat dengan kegiatan sekolah atau belajar agar tidak tertekan secara psikologis.
Sehingga menurut Tiara, bagi siswa yang menghadapi waktu belajarnya selama seharian penuh perlu disesuaikan waktu JBM-nya. Misal jika biasanya program itu berlangsung selama tiga jam, maka bisa dikurangi menjadi satu atau dua jam.
"Siswa yang belajar terus menerus justru membuat proses belajarnya tidak maksimal, sehingga memang perlu ada waktu istirahat atau refreshing,” tegas Tiara. (inu/laz)
Editor : Heru Pratomo