JOGJA - SD Muhammadiyah Sapen terus mengembangkan inovasi pendidikan untuk menyiapkan generasi muda yang unggul, adaptif, dan berwawasan global. Sejak Agung Rahmanto menjabat kepala sekolah mulai Januari 2015, dia mulai menjalankan peta jalan pengembangan pendidikan jangka panjang. Berfokus pada empat brand utama. Yakni sekolah karakter, sekolah literasi, sekolah multitalenta, dan sekolah digital.
Empat pilar tersebut, menjadi dasar bagi seluruh program sekolah. “Termasuk intrakurikuler, intrakurikuler, dan ekstrakurikuler," kata Agung pada Radar Jogja Jumat (17/10).
Diakuinya, langkah pertama yang dia lakukan adalah banyak mendengar. Dia pasang telinga, mencari tahu apa yang diinginkan orang tua dan warga sekolah. Dari situ dia mulai merumuskan visi besar sekolah. "Sapen harus tumbuh, bergerak, penuh inovasi, dan menyesuaikan zamannya,” lanjutnya.
Peta pendidikan yang dirumuskan sejak 2015, pun masih relevan hingga tahun ini. Telebih dengan adanya Kurikulum Meredeka. "Salah satu aspek penting Kurikulum Merdeka adalah digitalisasi sekolah. Kami sudah lebih dulu melakukannya dan siap menghadapi tantangan itu," bebernya.
Baca Juga: Empat Siswa SMAN 1 Jogja Absen Sekolah, Dua di Antaranya Masih Sakit Perut
Meski demikian, sekolah tetap melakukan pembenahan sistem pembelajaran. Termasuk pengurangan jumlah siswa di setiap kelas. Jika pada 2015 jumlah siswa mencapai 38-40 orang per kelas. Kini jumlahnya turun menjadi 28-32 siswa. "Kami ingin bukan hanya kuantitas, tapi kualitas. Dengan jumlah siswa yang lebih sedikit, proses pembelajaran bisa lebih fokus dan efektif," ujar Agung.
Saat ini, SD Muhammadiyah Sapen juga dikenal sebagai sekolah yang memberi ruang luas bagi pengembangan bakat dan minat siswa. Terdapat 39 kegiatan ekstrakurikuler yang dikelompokkan dalam empat rumpun. Yaitu keagamaan, olahraga, budaya, serta sains dan matematika.
Siswa diberi kebebasan memilih kegiatan sesuai minatnya. Beberapa program unggulan di antaranya tahfid Alquran, tahsin, qiroah, bahasa Arab, klub matematika, klub sains, english club, robotik, coding, fotografi, animasi, seni rupa, musik, teater, sepak bola, bulu tangkis, renang, tapak suci, serta pramuka.
"Anak-anak punya minat dan bakat yang beragam. Sekolah harus memfasilitasi semua itu secara merata dan adil," kata Agung
Setiap kegiatan ekstrakurikuler juga memiliki jenjang lanjutan berupa sanggar bagi siswa yang berbakat untuk persiapan kompetisi nasional. "Tagline kami jelas, berkolaborasi, berprestasi, dan menginspirasi," bebernya.
Baca Juga: Lebih dari 90 Menit: Ketika PSIM Jogja Membawa Saya Pergi Lebih dari 500 Kilometer Jauhnya
Di sisi lain, kekuatan Sapen juga terletak pada kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Agung menilai tiga elemen tersebut menjadi pondasi kuat keberhasilan sekolah.
"Gedung kami tidak mewah, tapi sistemnya kuat. Kami bangun sistem yang kokoh agar ke depan berjalan seperti kendaraan auto pilot," harapnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita