JOGJA – Sebagai sekolah di bawah naungan langsung Kementerian Perindustrian (Kemenperin), SMK SMTI Yogyakarta memiliki posisi strategis dengan jaminan serapan lulusan ke industri.
Maka, sekolah ini memastikan lulusannya memiliki kualitas tinggi dengan melakukan penguatan soft skill yang menjadi tantangan utama.
Kepala Sekolah SMK SMTI Yogyakarta Rr Ening Kaekasiwi mengatakan, Kemenperin memang menjamin 100 persen lulusan SMTI diterima di industri sesuai sektor dan keahlian masing-masing siswa.
“Walaupun sudah ada jaminan, kami tetap memastikan lulusan kami memiliki kualitas tinggi,” ujarnya kepada Radar Jogja, Minggu (9/2/2025).
Ening mengakui, tantangan utama saat ini memang perihal penguatan soft skill para siswa.
Hal ini berkaitan dengan inisiatif dan keberanian siswa mengemukakan pendapat atau ide.
Ini dinilai masih minim dimiliki siswa, hingga kemampuan berbahasa inggris dan sikap asertif yang juga masih kurang.
"Soal soft skill ini beberapa kali dari pihak industri memberi feedback pada SMTI. Kami di kelas coba rutin presentasi, membiasakan siswa tampil dan harapannya itu bisa membuat mereka lebih berani," ujarnya.
Menurutnya, sejauh ini untuk hard skill tidak ada kritik dari industri. Sebab, dari segi hard skill, seperti keterampilan teknis pada alat dan mesin, para siswa dinilai sudah mumpuni.
"Konsentrasi kami utamanya soft skill, kalau hard skill siswa sudah mumpuni dan sejauh ini tidak ada kritik soal hard skill dari industri," bebernya.
Secara proyeksi, SMTI disebut memiliki road map yang jelas, yaitu mempersiapkan lulusan untuk langsung bekerja atau berwirausaha.
Sehingga, kemampuan hard skill dan soft skill siswa harus benar-benar seimbang.
"Karena kami SMK di bawah Kemenperin, jadi road map lulusan kami bekerja. Itu yang kami kuatkan selama mereka bersekolah di sini," ungkapnya.
Seleksi masuk SMTI pun dilakukan secara ketat untuk memastikan siswa memang memiliki komitmen untuk terjun ke dunia industri.
“Siswa yang masuk SMTI adalah mereka yang siap bekerja. Kami melakukan early screening untuk memastikan hal itu,” imbuhnya.
Salah satu siswa Bagas Fernando mengaku, memilih SMTI karena ingin segera masuk ke industri setelah lulus.
Dari pola yang ada, sektor atau bidang yang dipilih umumnya adalah pekerjaan yang sudah mereka lakukan sebelumnya, saat magang atau praktik kerja industri (prakerin).
“Biasanya, banyak teman atau kakak kelas bekerja di tempat mereka magang atau prakerin sebelumnya,” ujarnya.
Bagas menambahkan, SMTI memiliki jaringan industri yang luas, mulai dari Jabodetabek hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur.
“Nanti tinggal pilih bidang yang sesuai. Saya sendiri ingin bekerja di Jabodetabek,” tambahnya. (iza/wia)