JOGJA - Di Indonesia kini, banyak ustaz atau guru yang biasa berdakwah kepada masyarakat. Biasanya sering dijumpai seorang ustaz yang sudah tua atau berusia lebih dari 50 atau 60 tahun.
Namun di era milenial seperti saat ini, banyak pula pendakwah muda di bawah 40 tahun yang cukup populer dan diikuti oleh kalangan anak muda. Salah satunya adalah Andri Prayitno.
Dia merupakan salah satu pendakwah dari Masjid Kampus UGM. Lebih dari 10 tahun Andri berdakwah ke masjid-masjid dan komunitas di Jogjakarta dan sekitarnya.
Perjalanan dakwah Andri dimulai sejak dia menjadi mahasiswa pada 2011. Dia merupakan mahasiswa S1 UGM jurusan filsafat dengan latar belakang pesantren di Palembang.
Di UGM, Andri aktif bergabung dengan lembaga dakwah kampus. Mulai dari Jamaah Salahudin hingga menjadi Sekretaris Jenderal Keluarga Muslim Filsafat. Sejak saat itu, Andri mulai serius menekuni dakwah, mengisi masjid-masjid kampus dan daerah sekitar. Dari tingkat padukuhan hingga tingkat nasional.
“Dakwah itu bukan profesi bagi saya, tapi lebih sebagai sarana untuk menyampaikan kebaikan kepada orang lain, terutama kepada generasi muda," katanya kepada Radar Jogja, Jumat (14/3).
Sebagai pendakwah muda, Andri merasa dakwah kepada anak muda sangat penting. Dia ingin memberikan rasa optimisme, serta mengajarkan mereka menjadi pribadi muslim yang tidak terlepas dari kemodernan dan tren zaman.
Sejak kali pertama berdakwah pada 2014, Andri mulai mengisi berbagai ceramah di kalangan mahasiswa di masjid-masjid kampus dan berbagai masjid lainnya. Seperti Masjid Al-Falah Mrican, Masjid Kampus UII, dan Masjid Al-Muslim Turi. Kini, dia juga mengisi banyak kajian rutin di berbagai tempat, terutama di bulan Ramadan.
Pada bulan Ramadan ini, Andri memiliki jadwal yang padat sebagai pengisi kultum dan ceramah. Maklum, dirinya juga menjabat sebagai humas di Masjid Kampus UGM. Tugasnya mengundang tokoh-tokoh untuk mengisi ceramah di masjid selama Ramadan.
“Tujuh hari pertama (Ramadan) saya kosongkan (jadwal pribadi) karena kemarin tamunya besar-besar semua. Ada Pak Anies, Pak Ganjar, Prof Mahfud MD, dan KH Mahbub Maafi. Di minggu kedua, saya baru mengisi dakwah lagi,” jelasnya.
Di luar bulan Ramadan, Andri juga aktif mengisi kajian mingguan di Masjid Al-Falah Mrican, kajian pekanan di Tempel, serta menjadi moderator untuk acara-acara dengan remaja masjid dan organisasi keagamaan. Selain itu, dia juga berperan aktif dalam berbagai seminar dan training yang mengasah ilmunya.
Menurut Andri, dakwah adalah sarana untuk menebar manfaat dan menyampaikan kebaikan kepada masyarakat. "Awalnya, saya berani berbicara karena memang passion saya di sini. Dakwah bagi saya bukan hanya soal ilmu, tetapi tentang bagaimana menularkan kebaikan kepada orang lain," ujar pria 32 tahun ini.
Dalam berdakwah, Andri sering fokus pada pentingnya membentuk karakter anak muda. Dia menekankan pentingnya tiga pilar utama bagi generasi muda, yaitu iman, ilmu, dan amal.
“Sehingga iman, ilmu, dan amal adalah satu kesatuan yang harus dimiliki oleh anak muda untuk mempersiapkan Indonesia Emas 2045,” ucap pria kelahiran Prabumulih, Sumatera Selatan ini.
Dia menyebut, anak muda harus dibekali dengan ilmu yang benar dan memiliki karakter yang kuat. Menurutnya, saat ini banyak orang pintar tapi tidak punya integritas. Andri berharap anak muda tidak kehilangan arah dan rentan terbawa arus. “Dengan memiliki tiga pegangan utama, yaitu iman, ilmu, dan amal, kualitas anak muda yang berkarakter dapat terwujud,” katanya.
Andri juga mengungkapkan dalam berdakwah sangat menolak penceramah yang menyampaikan ceramah dengan cara merendahkan pihak lain. Dia menyebut, dakwah harus menyebarkan kebaikan dan kedamaian.
Andri berharap bisa mengubah kebiasaan masyarakat yang belum baik menjadi lebih baik. “Sehingga terjadi masyarakat yang damai, tenteram, adil,” tandasnya. (tyo/laz)
Editor : Heru Pratomo