SMPN 2 Mertoyudan Bangun Karakter lewat Visi Relasi, Dorong Tidak Cuma Slogan, Harap Jadi Pembiasaan

Naila Nihayah • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 08:04 WIB
AKTIF: Para siswa di SMPN 2 Mertoyudan kerap mengikuti perlombaan serta menerapkan visi
AKTIF: Para siswa di SMPN 2 Mertoyudan kerap mengikuti perlombaan serta menerapkan visi 'Relasi'. Dok: Reza untuk Radar Jogja

MUNGKID - SMP Negeri 2 Mertoyudan, Kabupaten Magelang, menerjemahkan visi 'Relasi' ke dalam pembinaan siswa. Sekolah tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga membentuk kebiasaan religius, berkualitas, santun, dan berwawasan lingkungan. Dengan visi ini diharapkan menjadi pembiasaan hingga di luar sekolah.

Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMPN 2 Mertoyudan Reza Fandra Rahmawan mengatakan, nilai tersebut tidak hanya dikenalkan sebagai slogan. Tetapi dibentuk melalui kebiasaan siswa di sekolah. Setiap pagi, siswa muslim mengawali kegiatan dengan doa dan Asmaul Husna, sedangkan siswa nonmuslim mengikuti renungan pagi.

Pada Selasa hingga Kamis, siswa bergiliran mengikuti kegiatan religi seperti wudu dan salat Duha, penguatan sopan santun, serta senam Anak Indonesia Hebat. "Religius itu relasi dengan Tuhan, sopan santun berelasi dengan sesama, berkualitas dengan diri sendiri dan alam," kata Reza di kantornya, Jumat (25/9/2026).
Baca Juga: Dedikasi Victor Ferdinand untuk Temukan Rumah Baru bagi Anjing-Anjing Terbuang

Pembinaan karakter juga diperkuat melalui program Adiwiyata. SMPN 2 Mertoyudan pernah meraih Adiwiyata tingkat nasional pada 2017-2018 dan kini berstatus Adiwiyata tingkat provinsi. Siswa dibiasakan memilah dan mengolah sampah, membuat kompos, hingga melakukan pembibitan.

Tim Bidang Kesiswaan SMPN 2 Mertoyudan Roykhan Apid menambahkan, Adiwiyata kini diarahkan menjadi budaya sekolah, bukan sekadar mengejar penghargaan. "Harapannya anak-anak bisa dengan sendirinya mengolah sampah, membawa sampahnya ke tempatnya," terangnya.

Selain karakter, lanjut dia, sekolah membuka ruang pengembangan minat dan bakat melalui berbagai ekstrakurikuler. Kegiatannya berlangsung Senin hingga Sabtu, antara lain jurnalistik, pramuka, voli, sepak bola, basket, futsal, karawitan, band, rebana, paduan suara, tari, pantomim, hingga bela diri.

Penjaringan, kata Roykhan, dilakukan sejak MPLS. Setiap ekstrakurikuler diperkenalkan melalui penampilan dan stan, kemudian siswa diwajibkan memilih sedikitnya satu kegiatan pilihan.

Baca Juga: Cegah TPPO, Kanwil Ditjen Imigrasi DIY Bakal Tambah Desa Binaan Imigrasi: Baru 21 Titik di DIY

Hampir seluruh ekstrakurikuler telah menghasilkan prestasi. Terbaru, tim rebana meraih juara I tingkat Kabupaten Magelang dan akan mewakili daerah ke tingkat provinsi pada 13 November mendatang.

Prestasi juga diraih dari olahraga dan seni. Tim voli pernah menjadi juara II POPDA, basket dan bulu tangkis meraih juara III. Pantomim juga beberapa kali meraih juara. Di bidang akademik, siswa berhasil menembus OSN tingkat Jawa Tengah serta kompetisi karya ilmiah.

Untuk mengembangkan siswa yang memiliki potensi prestasi, sekolah tidak hanya mengandalkan latihan mandiri. Fasilitas dan pelatih disiapkan sesuai bidang yang dikembangkan.

Pada cabang tertentu, sekolah mendatangkan pelatih yang memiliki kompetensi khusus. Pembinaan seperti ini diterapkan antara lain pada pantomim. Hasilnya, tim pantomim SMPN 2 Mertoyudan mampu meraih prestasi tingkat daerah dan beberapa kali masuk dalam posisi juara.
Baca Juga: Huistra Optimistis PSS Segera Bangkit; Permainan Sudah di Jalur Benar, Poles Penyelesaian Akhir

Sekolah tidak menetapkan target berupa jumlah piala tertentu setiap tahun. Menurutnya, prinsip yang digunakan adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi, kemudian memfasilitasi mereka yang memiliki minat dan kemampuan untuk mengikuti perlombaan.

Roykhan menyebut, tantangan pembinaan para siswa selanjutnya adalah menjaga konsistensi minat siswa. Untuk memotivasi mereka, sekolah rutin mengumumkan dan memberikan penghargaan kepada siswa berprestasi saat upacara.

Cara tersebut diharapkan menumbuhkan keinginan siswa lain untuk mengikuti jejak temannya. "Setiap kali upacara kita ada kejuaraan, kita umumkan dan berikan penghargaan. Itu memicu yang lain untuk berprestasi lebih," ujar dia.

Meski demikian, sekolah tetap menempatkan prestasi akademik sebagai perhatian. Terlebih SMPN 2 Mertoyudan memiliki sejarah sebagai sekolah dengan capaian akademik yang kuat.
Baca Juga: Bakar Sampah di Musim Kemarau Picu Kebakaran Lahan di Sleman Melonjak Signifikan

Roykhan berharap seluruh unsur visi 'Relasi' benar-benar terbawa hingga siswa berada di luar sekolah. Tidak hanya berprestasi, siswa diharapkan tetap menjalankan ibadah, memahami sopan santun, serta peduli terhadap lingkungan.

"Visinya jalan, enggak cuma slogan. Harapannya anak-anak ketika di rumah tetap salat, tahu sopan santun, tahu unggah-ungguh, dan berkualitas," katanya. (aya/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita
SMPN 2 Mertoyudan Visi Relasi pembiasaan harian siswa prestasi karakter