Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMPN 2 Mertoyudan Reza Fandra Rahmawan mengatakan, nilai tersebut tidak hanya dikenalkan sebagai slogan. Tetapi dibentuk melalui kebiasaan siswa di sekolah. Setiap pagi, siswa muslim mengawali kegiatan dengan doa dan Asmaul Husna, sedangkan siswa nonmuslim mengikuti renungan pagi.
Pada Selasa hingga Kamis, siswa bergiliran mengikuti kegiatan religi seperti wudu dan salat Duha, penguatan sopan santun, serta senam Anak Indonesia Hebat. "Religius itu relasi dengan Tuhan, sopan santun berelasi dengan sesama, berkualitas dengan diri sendiri dan alam," kata Reza di kantornya, Jumat (25/9/2026).
Pembinaan karakter juga diperkuat melalui program Adiwiyata. SMPN 2 Mertoyudan pernah meraih Adiwiyata tingkat nasional pada 2017-2018 dan kini berstatus Adiwiyata tingkat provinsi. Siswa dibiasakan memilah dan mengolah sampah, membuat kompos, hingga melakukan pembibitan.
Tim Bidang Kesiswaan SMPN 2 Mertoyudan Roykhan Apid menambahkan, Adiwiyata kini diarahkan menjadi budaya sekolah, bukan sekadar mengejar penghargaan. "Harapannya anak-anak bisa dengan sendirinya mengolah sampah, membawa sampahnya ke tempatnya," terangnya.
Selain karakter, lanjut dia, sekolah membuka ruang pengembangan minat dan bakat melalui berbagai ekstrakurikuler. Kegiatannya berlangsung Senin hingga Sabtu, antara lain jurnalistik, pramuka, voli, sepak bola, basket, futsal, karawitan, band, rebana, paduan suara, tari, pantomim, hingga bela diri.
Penjaringan, kata Roykhan, dilakukan sejak MPLS. Setiap ekstrakurikuler diperkenalkan melalui penampilan dan stan, kemudian siswa diwajibkan memilih sedikitnya satu kegiatan pilihan.
Baca Juga: Cegah TPPO, Kanwil Ditjen Imigrasi DIY Bakal Tambah Desa Binaan Imigrasi: Baru 21 Titik di DIY
Prestasi juga diraih dari olahraga dan seni. Tim voli pernah menjadi juara II POPDA, basket dan bulu tangkis meraih juara III. Pantomim juga beberapa kali meraih juara. Di bidang akademik, siswa berhasil menembus OSN tingkat Jawa Tengah serta kompetisi karya ilmiah.
Untuk mengembangkan siswa yang memiliki potensi prestasi, sekolah tidak hanya mengandalkan latihan mandiri. Fasilitas dan pelatih disiapkan sesuai bidang yang dikembangkan.
Pada cabang tertentu, sekolah mendatangkan pelatih yang memiliki kompetensi khusus. Pembinaan seperti ini diterapkan antara lain pada pantomim. Hasilnya, tim pantomim SMPN 2 Mertoyudan mampu meraih prestasi tingkat daerah dan beberapa kali masuk dalam posisi juara.
Sekolah tidak menetapkan target berupa jumlah piala tertentu setiap tahun. Menurutnya, prinsip yang digunakan adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi, kemudian memfasilitasi mereka yang memiliki minat dan kemampuan untuk mengikuti perlombaan.
Roykhan menyebut, tantangan pembinaan para siswa selanjutnya adalah menjaga konsistensi minat siswa. Untuk memotivasi mereka, sekolah rutin mengumumkan dan memberikan penghargaan kepada siswa berprestasi saat upacara.
Cara tersebut diharapkan menumbuhkan keinginan siswa lain untuk mengikuti jejak temannya. "Setiap kali upacara kita ada kejuaraan, kita umumkan dan berikan penghargaan. Itu memicu yang lain untuk berprestasi lebih," ujar dia.
Meski demikian, sekolah tetap menempatkan prestasi akademik sebagai perhatian. Terlebih SMPN 2 Mertoyudan memiliki sejarah sebagai sekolah dengan capaian akademik yang kuat.
Roykhan berharap seluruh unsur visi 'Relasi' benar-benar terbawa hingga siswa berada di luar sekolah. Tidak hanya berprestasi, siswa diharapkan tetap menjalankan ibadah, memahami sopan santun, serta peduli terhadap lingkungan.
"Visinya jalan, enggak cuma slogan. Harapannya anak-anak ketika di rumah tetap salat, tahu sopan santun, tahu unggah-ungguh, dan berkualitas," katanya. (aya/wia)