JOGJA - Praktik Kerja Lapangan (PKL) di SMK-SMTI Yogyakarta tidak sekadar menjadi bagian dari kewajiban pembelajaran siswa. Program ini dirancang sebagai bagian dari strategi sekolah untuk mempertemukan kompetensi siswa dengan kebutuhan industri, sekaligus membuka peluang penyerapan lulusan ke dunia kerja.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMK-SMTI Yogyakarta Yahya Farqadain mengatakan, PKL bagi siswa diarahkan agar punya keterkaitan langsung dengan kebutuhan dan proyeksi pekerjaan di industri. Berbeda dengan pola PKL yang sekadar menempatkan siswa di perusahaan, sekolah berupaya memastikan siswa mendapatkan tugas, target, serta pengalaman kerja yang relevan.
"PKL di SMTI start di kelas 12 sampai mereka diterima kerja. Harapannya ketika mereka selesai PKL, mereka langsung direkrut kerja tanpa harus kembali ke sekolah," kata Yahya saat ditemui di SMK-SMTI Yogyakarta, Rabu (19/8).
Baca Juga: Legislatif Soroti Penurunan Target Retribusi Parkir hingga Rp 887 Juta, Dorong Audit Eksternal
SMK-SMTI Yogyakarta sendiri memiliki tiga konsentrasi keahlian, yakni Teknik Kimia Industri, Kimia Analisis, dan Teknik Mekatronika. Untuk program tiga tahun, PKL berlangsung selama dua semester, sedangkan program empat tahun menjalani PKL selama tiga semester.
Menurut Yahya, konsep tersebut membuat pengalaman PKL siswa lebih dekat dengan sistem kerja sesungguhnya. Bahkan, sekolah mendorong industri agar sejak awal telah memiliki proyeksi yang jelas mengenai posisi dan pekerjaan yang akan dijalankan siswa.
"Kalau ketika dimulai dari demand industri, otomatis anak kita sudah disiapkan pekerjaannya. Sudah ada proyeknya, sudah ada proyeksinya mau jadi apa, mau diapakan," ujarnya.
Karena itu, sekolah tidak sekadar menawarkan siswa kepada perusahaan. Justru kebutuhan tenaga kerja dari industri menjadi salah satu dasar penempatan siswa. Industri dapat menyampaikan spesifikasi kompetensi yang dibutuhkan, kemudian sekolah melakukan pemetaan dan menyiapkan kandidat sesuai kriteria tersebut.
Yahya mencontohkan, perusahaan dapat meminta siswa dengan kemampuan tertentu, seperti penguasaan Programmable Logic Controller (PLC) untuk posisi yang berkaitan dengan otomasi. Jika kompetensi tersebut belum sepenuhnya dikuasai siswa, sekolah dapat memberikan pembekalan tambahan sebelum siswa menjalani PKL.
"Kebutuhan mereka kita dengar dan kita coba wujudkan. Contoh kalau perusahaan meminta yang bisa PLC Siemens, sementara anak belum sempat memegangnya, kita training dulu dua minggu sehingga sampai di industri mereka sudah bisa," jelasnya.
Pola tersebut didukung jejaring kerja sama SMK-SMTI Yogyakarta dengan lebih dari 340 industri. Jumlah tersebut tidak berarti seluruh industri menerima siswa setiap tahun, melainkan menjadi jejaring yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan dan momentum rekrutmen masing-masing perusahaan.
Dari jejaring tersebut, sekitar 70–75 persen penempatan siswa disebut berada di kawasan Jabodetabek, terutama Jakarta, Cikarang, dan Karawang. Selain itu, terdapat penyerapan di wilayah Banten, Bandung dan sekitarnya, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur.
Yahya mengatakan konsentrasi tersebut berkaitan dengan karakter kompetensi yang ditawarkan sekolah. Lulusan SMK-SMTI diarahkan untuk mengisi posisi yang membutuhkan keterampilan teknis tinggi, seperti maintenance, engineering, laboratorium, hingga operator yang memahami teknologi industri.
"Yang kita tawarkan ke industri itu level SMK dengan skill kompetensi tinggi. Kita isi pos-pos yang mereka tidak ada sumbernya. Untuk Mekatronika misal, mengisi posisi maintenance dan engineering, terutama yang berkaitan dengan otomasi," katanya.
Dengan pola tersebut, pengalaman kerja menjadi salah satu modal yang dibawa siswa ketika menyelesaikan pendidikan. Yahya menyebut lulusan SMK-SMTI setidaknya telah memiliki pengalaman bekerja sekitar satu tahun melalui skema PKL yang dijalankan sekolah.
Baca Juga: PSIM Jogja Belum Berhenti Buru Pemain Lokal demi Bermain di League Cup
"Kata kuncinya, anak SMTI ini lulus itu sudah punya pengalaman kerja minimal satu tahun," tegasnya.
Tidak berhenti pada masa PKL dan kelulusan, sekolah juga memiliki program pengembangan alumni. Melalui bidang Humas, alumni tetap dipantau setelah lulus untuk mengetahui perkembangan karier, kebutuhan kompetensi, hingga informasi pekerjaan yang relevan.
"Kita itu bukan hanya PKL, bukan hanya penyaluran dan PKL. Kita ada pengembangan alumni. Jadi alumni walaupun sudah lulus, dua tahun, tiga tahun ke depan itu masih kita monitor. Kita tracking, ada di mana, ada kekurangan apa," tutur Yahya.
Sementara itu, pola penyerapan lulusan tersebut sejalan dengan kebijakan pendidikan vokasi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang memang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja sektor industri.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut 100 persen lulusan unit pendidikan vokasi di bawah Kemenperin dipastikan diterima bekerja di sektor industri. Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari kualitas pendidikan vokasi sekaligus jejaring kerja sama yang dibangun dengan dunia industri.
"Kualitas pendidikan vokasi kita sudah sangat baik. Tapi perlu ditambah dari jumlah atau kuantitasnya," kata Agus.
Ia menilai kebutuhan terhadap sumber daya manusia (SDM) unggul dan kompeten di sektor industri terus meningkat seiring pertumbuhan industri nasional. Karena itu, penguatan pendidikan vokasi tidak hanya perlu dilakukan dari sisi kualitas, tetapi juga kapasitas untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja.
"Selain kualitas, aspek kuantitas juga terus ditingkatkan, baik program kelas atau SDM, untuk memenuhi kebutuhan industri," ujarnya.
Agus menambahkan, meningkatnya kebutuhan tenaga kerja terampil menjadi salah satu indikator positif bagi perkembangan sektor industri nasional.
Baca Juga: Ada Bakteri Dalam Menu MBG, Hasil Uji Laboratorium Sampel Keracunan di SMPN 3 Candimulyo
"Industri kita bertumbuh pesat, peningkatan dan kebutuhan SDM di industri juga terus terjadi," tandasnya.
Konteks tersebut turut memperkuat pentingnya pola pembelajaran yang sejak awal mempertemukan siswa dengan kebutuhan dunia kerja. Di SMK-SMTI Yogyakarta, pendekatan itu kemudian diteruskan melalui pemantauan lulusan setelah mereka menyelesaikan pendidikan.
Sementara itu, pola penyerapan lulusan juga tercermin dari pelaksanaan wisuda. Menurut Yahya, tidak semua lulusan selalu dapat menghadiri prosesi wisuda karena sebagian sudah bekerja dan belum memperoleh hak cuti dari perusahaan.
"Kalau banyak yang ikut wisuda, kita malah merasa gagal. Secara histori maksimum dihadiri 50 persen peserta, tapi 100 persen orang tua. Artinya kita tunjukkan orang tua itu bangga, anaknya sudah bekerja dan dipanggil ke depan namanya walau anaknya tidak hadir wisuda," ujarnya.
Ia menambahkan, secara historis sekolah menargetkan tingkat keterserapan lulusan mendekati 100 persen pada akhir tahun setelah kelulusan. Siswa yang belum bekerja pada momentum tersebut umumnya masih dalam proses menunggu kesempatan kerja atau melanjutkan pendidikan.
Bagi Yahya, pola kerja sama dengan industri tersebut akan terus dikembangkan melalui dua jalur, yakni mempererat hubungan dengan mitra yang sudah ada sekaligus memperluas jejaring baru.
"Kita ada dua gerakannya. Yang pertama mempererat, yang kedua menambah. Ini harus ditambah karena kita mau energi atau semangat kita itu dirasakan semua industri," katanya.
Baca Juga: Zidan Attala Lahap 1.500 Km Bentang Jawa, Jadi Finisher Pertama, Catat Waktu 3 Hari 9 Jam 43 Menit
Dengan pendekatan tersebut, PKL tidak ditempatkan semata sebagai tahap akhir pembelajaran siswa, melainkan sebagai ruang untuk menguji sekaligus mengembangkan kompetensi sebelum benar-benar masuk ke dunia kerja. (iza)
Editor : Bahana.