Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Siswa SMAN 1 Seyegan Sleman Bikin Film soal Kesehatan Mental, PRYAKKUM Luncurkan Kampanye Ruang Aman untuk Kita di IFI Jogja

Iwa Ikhwanudin • Sabtu, 27 Juni 2026 | 18:50 WIB
Launching film berjudul Di Balik Nilai Merah (cerita fiksi) dan Histeria Kolektif (dokumenter) diisi dengan talkshow tentang kesehatan mental, Sabtu (27/6/2026) di Auditorium Institut Français d
Launching film berjudul Di Balik Nilai Merah (cerita fiksi) dan Histeria Kolektif (dokumenter) diisi dengan talkshow tentang kesehatan mental, Sabtu (27/6/2026) di Auditorium Institut Français d'Indonésie (IFI) Yogyakarta. (Foto: iwa ikhwanudin/Radar Jogja) 

JOGJA – Tekanan akademik dan dinamika sosial di lingkungan sekolah kerap menjadi pemicu gangguan kesehatan mental bagi remaja. 

Isu ini menjadi sorotan serius di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), seiring data nasional yang menunjukkan sekitar 34 persen remaja mengalami masalah kesehatan mental. 

Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRYAKKUM) melalui Program ASIK (Aksi Sehat Jiwa, Inisiatif, dan Kontribusi dari Anak Muda) mengambil langkah nyata dengan meluncurkan kampanye "Ruang Aman untuk Kita", Sabtu (27/6/2026) di Auditorium Institut Français d'Indonésie (IFI) Yogyakarta.

Uniknya, kampanye ini digawangi oleh siswa-siswi SMA N 1 Seyegan, Sleman, yang memproduksi dua film pendek sebagai media literasi kesehatan mental.

Baca Juga: Di Bulan Muharam, Pimpinan Definitif DPC PKB Sleman Gelar Santunan Anak Yatim dan Doa Asyura

Dua film berjudul Di Balik Nilai Merah (cerita fiksi) dan Histeria Kolektif (dokumenter) mengangkat keresahan nyata seputar tekanan akademik serta fenomena sosial yang kerap menghantui pelajar.

Devinta Idya Putri, siswi SMAN 1 Seyegan yang menjadi penulis cerita film Di Balik Nilai Merah, mengisahkan tentang seorang guru yang menilai rendah murid dengan nilai pelajaran kurang bagus.

"Seharusnya anak dengan nilai rendah dimotivasi agar bisa mempelajari pelajaran lagi, bukan malah tidak memotivasi," ujarnya.

Ketua Tim Program ASIK PRYAKKUM, Fina Umi, menjelaskan bahwa film dipilih sebagai medium utama karena dinilai lebih membumi dan menarik bagi anak muda dibandingkan modul konvensional.

Baca Juga: Kini Bikin PT dan CV di Jogja Bisa Sistem COD dan Gratis Konsultasi Pajak

"Anak muda lebih tertarik menonton daripada membaca dengan bahasa ilmiah. Kedua film ini berangkat dari diskusi tentang kesehatan mental anak muda, termasuk fenomena kesurupan yang sering dikaitkan dengan hal gaib, padahal bisa jadi cerminan kondisi mental," ungkapnya.

Kampanye ini juga diisi dengan peluncuran Buku Saku Kesehatan Mental Remaja dan Orang Muda yang disusun bersama Tim Organisasi REMISI.

Buku saku praktis ini memuat informasi mengenai cara mengenali tekanan batin, mekanisme koping yang sehat, hingga pentingnya membangun dukungan sosial, serta dilengkapi daftar akses layanan bantuan yang tersedia di Yogyakarta.

Rangkaian acara semakin semarak dengan sesi talkshow menghadirkan narasumber kompeten yang mendiskusikan peran film sebagai media literasi dan urgensi buku saku.

Baca Juga: Gempa Magnitudo 5,6 Berpusat di Tenggara Pacitan, BMKG Sebut Akibat Aktivitas Subduksi Lempeng Bumi

Panitia juga menyiapkan pertunjukan seni berupa tarian, musik, dan monolog yang dibawakan langsung oleh para pelajar.

Pengunjung dapat mengunjungi booth interaktif yang menyediakan layanan skrining kesehatan mental gratis dan berbagai aktivitas edukatif untuk memecah stigma negatif masyarakat terhadap konseling.

Dipilihnya IFI Yogyakarta yang berlokasi strategis di Jl. Sagan No. 3, Terban, Gondokusuman sebagai tempat acara, mengingat ruang di sana terbuka, inklusif.

Dan mudah diakses publik dari berbagai penjuru DIY. 

Acara berlangsung pukul 14.00 hingga 16.00 WIB.

Mengundang rekan-rekan media, pelajar, orang tua, pendidik, serta pegiat kesehatan mental.

Baca Juga: Uruguay Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Marcelo Bielsa: Saya Tidak Meninggalkan Apapun

PRYAKKUM mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menyebarluaskan narasi positif.

Bahwa kesehatan mental adalah isu kolektif yang membutuhkan ekosistem suportif dari semua pihak. 

"Remaja membutuhkan ruang untuk didengar tanpa rasa takut dihakimi."

"Kampanye ini hadir untuk menegaskan bahwa membicarakan kesehatan mental adalah hal yang normal dan harus dimulai dari lingkungan terdekat," pungkas perwakilan Program ASIK PRYAKKUM. (iwa) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Gangguan Kesehatan Mental #kesehatan mental remaja #kesurupan #kesehatan mental #SMAN 1 Seyegan