JOGJA - SMK Negeri (SMKN) 2 Jogja terus memperkuat pendidikan karakter peduli lingkungan melalui berbagai program berkelanjutan.
Salah satu rencana yang tengah disiapkan adalah pengolahan limbah organik menjadi biogas di lingkungan sekolah.
Ketua Adiwiyata SMKN 2 Jogja Sunardi mengatakan, sekolahnya telah menyandang status Sekolah Adiwiyata sejak 2018.
Tahun ini, capaian tersebut meningkat menjadi Sekolah Adiwiyata Mandiri setelah melalui tahapan kota, provinsi, hingga nasional.
"Adiwiyata mandiri itu syaratnya sudah harus membimbing minimal dua sekolah lain," ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (3/4/2026).
Program pendampingan tersebut diwujudkan melalui pengimbasan kepada sejumlah sekolah.
Baca Juga: Polres Bantul Sita 120 Botol Miras di Kretek, Penindakan Disebut dari Laporan Warga
Tidak hanya aspek administratif, bimbingan juga mencakup program dan kegiatan pendukung agar sekolah binaan mampu meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
"Kami kemarin sudah melakukan bimbingan di enam sekolah SD dan satu SMP," jelasnya.
Melalui wadah Garda Persada Skaduta, siswa dilibatkan langsung dalam berbagai aktivitas lingkungan.
Baca Juga: Tujuh Ribu Tiket Pertandingan PSS Sleman vs Persipal Palu di MagIS Ludes dalam Semenit
Mulai dari pengolahan sampah menjadi pupuk organik cair (POC), pelatihan pengelolaan limbah, hingga budidaya maggot sebagai solusi pengolahan sampah organik.
"Planning besarnya kepingin punya alat pencacah plastik yang nanti bisa menghasilkan biji plastik. Itu akan menekan limbah plastik secara besar-besaran," terangnya.
Adapun, pengimbasan menjadi syarat wajib agar sekolah naik level menjadi Sekolah Adiwiyata Mandiri.
Baca Juga: DLH Bantul Masih Tunggu Instruksi BBWSSO untuk Evakuasi Sampah Kiriman dari Sungai Winongo
Wadah tersebut bertujuan agar pengurus atau siswa yang bergabung tumbuh karakter cinta lingkungan.
"Sasaran kami adalah semua pemberdayaan dari warga sekolah, baik siswa, guru, maupun karyawan itu sadar akan masalah sampah," sambungnya.
Saat ini, ia sedang merencanakan pengadaan biogas di lingkungan sekolah. Mengingat jumlah siswa di sekolahnya yang relatif besar, yakni sekitar 2.500 siswa.
Praktis, produksi terkait dengan limbah organik akan semakin besar. Kondisi tersebut ia lihat sebagai potensi untuk menghasilkan biogas.
"Itu kan kami juga ada kendala tentang tampungan septic tank, itu kan selalu penuh. Nah posisinya kalau bisa tak buat biodigester nanti bisa menjadi biogas," tambahnya.
Namun, rencana tersebut masih menunggu keputusan dari pimpinan sekolah. Sebab, biaya yang dibutuhkan tidak sedikit.
Anggota Garda Persada Skaduta ada sekitar 150 per angkatan. Artinya secara keseluruhan ada sekitar 450 siswa yang tergabung dalam organisasi tersebut. "Sesuai regulasi, minimal 30 persen dari jumlah siswa," ucapnya. (oso/wia)