Hal ini dibuktikan melalui gelaran kompetisi kesehatan bertajuk Medical Research Olympiad (MRO) yang menjadi rangkaian peringatan Dies Natalis ke-80 dan Lustrum ke-16 FK-KMK UGM.
Bertempat di Gedung Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Sabtu (7/2). Dalam gelaran kali ini, puluhan peneliti dari berbagai latar belakang unjuk gigi memaparkan temuan terbaru mereka.
Tak hanya berasal dari internal kampus UGM, kompetisi ini juga menarik minat peserta dari institusi luar daerah, seperti Universitas Indonesia hingga instansi kesehatan dari Surakarta.
PIC MRO dr. Junaedy Yunus, M.Sc., Ph.D. dari Departemn Anatomi FK-KMK UGM menjelaskan MRO tahun ini menitikberatkan pada tiga kategori yang menjadi pilar kesehatan masa depan. Ketiga kategori itu adalah, penelitian biomedis, penelitian bidang klinis, serta bidang kesehatan masyarakat.
"Kami menjaring talenta-talenta peneliti untuk mengirimkan karya berupa poster ilmiah," cetusnya, Sabtu (7/2).
Menurut Junaedy, dari total 37 poster riset yang masuk ke meja panitia, dilakukan kurasi ketat hingga menyisakan 30 finalis. Masing-masing kategori diambil 10 poster terbaik untuk dipresentasikan secara langsung di hadapan dewan juri.
Proses penjurian pun berlangsung dinamis. Setiap finalis hanya diberi waktu singkat, yakni lima menit presentasi dan lima menit tanya jawab untuk meyakinkan dua juri di tiap kategori.
"Output-nya nanti akan dipilih juara satu, dua, dan tiga per kategori. Kami juga melibatkan pengunjung untuk memilih tiga poster juara favorit," ucapnya.
Meski begitu, Junaedy mengatakan jika target utama dari MRO ini bukan sekadar mencari pemenang, melainkan sebagai sarana diseminasi hasil penelitian.
Harapannya, riset yang dilakukan oleh mahasiswa maupun tenaga kesehatan di jejaring UGM tidak hanya berhenti di atas kertas atau perpustakaan saja.
"Tujuannya agar hasil penelitian ini bisa terpublikasi dan diketahui khalayak luas, sehingga manfaatnya benar-benar terasa bagi perkembangan dunia medis di Indonesia," tandasnya. (ayu)
Editor : Bahana.