76 tahun Universitas Gadjah Mada (UGM) berkontribusi dalam kemajuan Indonesia. Melalui pengembangan ilmu pengetahuan hingga berbagai kegiatan kemanusiaan, UGM terus berkomitmen mencetak generasi muda yang unggul, peka terhadap situasi sosial dan berdampak nyata bagi masyarakat Indonesia.
Rektor UGM Prof. Dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., mengatakan salah satu kontribusi nyata UGM dalam misi kemanusiaan adalah dalam bentuk pemberian berbagai bantuan kepada masyarakat terdampak bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
UGM membentuk Emergency Response Unit sebagai bentuk tanggung jawab institusional terhadap kemanusiaan dan pembangunan berkelanjutan. Pasca bencana, UGM juga memberikan bantuan langsung melalui penggalangan dana bersama sivitas, mitra dan alumni.
“UGM mengakomodasi kebutuhan mahasiswa yang berasal dari wilayah terdampak. Tercatat ada 217 mahasiswa UGM yang terdampak bencana tersebut, terdiri 81 mahasiswa dari Aceh, 93 dari Sumatra Utara, dan 43 dari Sumatra Barat,” ujarnya, Kamis (18/12).
UGM memberikan bantuan serta pendampingan yang diperlukan. Mulai dari keringanan UKT, bantuan biaya hidup harian, bantuan makan, paket sembako, bantuan biaya kos, hingga pendampingan konseling.
Bahkan, beberapa mahasiswa berpotensi mengajukan cuti akademik akibat kondisi keluarga di daerah asal yang kehilangan tempat tinggal, pekerjaan, maupun sumber penghasilan.
“UGM juga memberangkatkan tim relawan medis yang terdiri dari dari dokter spesialis lintas disiplin, perawat, apoteker, nutrisionis, dan sanitarian dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) dan RSA UGM ke lokasi terdampak bencana,” jelasnya.
Mereka melakukan pendataan kebutuhan obat-obatan dan alat medis, serta berkoordinasi dengan rumah sakit setempat untuk memastikan layanan kesehatan tetap berjalan secara optimal. Total sebanyak empat tim medis secara bergantian dikirimkan.
Sementara dari Tim psikososial, UGM juga memberikan perhatian khusus pada pemulihan psikologis penyintas. Tim ini berperan melakukan pendampingan langsung di lokasi bencana.
Tim ini juga menyelenggarakan pelatihan pendampingan psikososial bekerja sama dengan Universitas Syiah Kuala, sebagai upaya memperkuat kapasitas pendampingan yang berkelanjutan di wilayah terdampak.
“Beberapa tim juga melakukan pengembangan teknologi terapan dengan memasang alat penjernih air bertenaga surya di puskesmas dan rumah sakit di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Utara Utara serta pemasangan alat deteksi banjir dan tsunami di Aceh,” paparnya.
Terkait dengan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, UGM tengah menyusun rekomendasi yang dapat digunakan oleh pemerintah.
Rekomendasi tersebut mencakup penyediaan hunian dan kawasan sementara, pemulihan ekonomi serta sosial budaya, hingga pembahasan aspek hukum dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi.
Kampus Berdampak, Nyata Menjangkau Masyarakat
Tahun ini, Dies UGM mengusung tema “Kampus Sehat, Pilar Kemandirian dan Ketahanan Bangsa” yang menegaskan bahwa UGM senantiasa menjaga marwah institusi pendidikan tinggi dan berkomitmen menyediakan ruang pendidikan, serta ekosistem akademik bermutu yang berdampak.
Upaya ini merupakan bentuk tanggung jawab UGM terhadap kemanusiaan, solidaritas kebangsaan, dan mendorong model pembangunan berkelanjutan yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Sebagai kampus berdampak, UGM di tahun 2025 ini berhasil menunjukkan berbagai kontribusi pengembangan di bidang kualitas sumber daya manusia, sosial-kemasyarakatan, dan perekonomian yang menjangkau aneka sektor.
Mulai dari upaya mendorong kemandirian bahan baku obat dan alat-alat kesehatan, penanganan stunting, TBC, mewujudkan kedaulatan pangan dan transisi energi yang berkeadilan, hingga melakukan adaptasi lingkungan, pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan, dan pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat.
“Dalam berbagai proses tersebut, kami senantiasa berpegang pada tiga prinsip, yakni merakyat, mandiri, dan berkelanjutan,” ujar Ova.
Sebagai universitas nasional, UGM memegang mandat sosial untuk menyelenggarakan fungsi pendidikan tinggi yang berkualitas serta terjangkau oleh masyarakat. Untuk menjaga keterjangkauan biaya pendidikan, UGM merancang program beasiswa.
Tahun 2025 ini, UGM berhasil menggandeng kurang lebih 229 mitra penyedia beasiswa dan menjangkau sekitar 18.617 mahasiswa penerima manfaat.
Dari sisi kemandirian pembiayaan, UGM juga menggiatkan berbagai program kerja sama di bidang tridarma, pemanfaatan aset, dan pemasukan pendanaan dari unit usaha UGM guna menopang biaya operasional pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Untuk menjamin peningkatan kualitas pendidikan, perluasan akses publik bagi pendidikan, dan penguatan daya saing SDM nasional, UGM merancang Ekosistem Pembelajaran Inovatif (EPI) sebagai wujud transformasi pendidikan tinggi dalam menjawab tantangan masa depan.
Inovasi dihadirkan dalam EduTech, melalui penyediaan MOOC di platform LMS eLOK—untuk kalangan internal, dan UGM Online—untuk publik. EPI yang dapat diakses oleh masyarakat merupakan bentuk nyata komitmen inklusivitas pengetahuan UGM.
“Langkah-langkah strategis ini tidak lain untuk mewujudkan UGM yang merakyat dan inklusif,” tandasnya.
Penguatan ekosistem inovasi berbasis kolaborasi dapat dilakukan melalui video diseminasi pengetahuan, yang efektif dalam menyebarkan informasi, menginspirasi kolaborasi lintas disiplin, dan memperkuat integrasi inovasi.
Dengan penyampaian visual yang mudah diakses, ekosistem inovasi dapat berkembang lebih cepat, meningkatkan manfaat inovasi bagi masyarakat, serta mendorong partisipasi aktif dalam menciptakan solusi berkelanjutan.
“UGM telah merilis 854 video diseminasi pengetahuan dari berbagai kluster di UGM, termasuk 531 video karya dosen yang tersedia di UGM Channel,” paparnya.
Puluhan Tahun Berkarya dan Berinovasi
Ova, sapaan akrabnya, yakin bahwa riset dan inovasi menjadi elemen sangat penting bagi penguatan posisi pendidikan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan.
Membangun kemandirian universitas berarti juga membangun sebuah pilar kedaulatan bangsa. Universitas dalam hal ini memiliki peran krusial dan menjadi pusat inovasi teknologi serta hilirisasi riset sebab bangsa yang berdaulat adalah bangsa yang memiliki kemandirian secara intelektual dan teknologi.
UGM berupaya untuk membangun ekosistem riset dan inovasi dengan mengorkestrasi berbagai komponen.
Hal ini dimulai dari menetapkan flagship penelitian, memperkuat kelembagaan riset, memperbaiki sarana prasarana riset, dan membangun jejaring kemitraan riset seperti MIT REAP, Kedaireka, ADB, Primestep, dan PUAPT.
“Kami juga memperkuat siklus riset ke hilirisasi mulai dari pengujian produk, penguatan R&D dan inovasi, fabrication laboratories, hingga katalisasi pengembangan kewirausahaan dan inovasi melalui UGM Science Technopark, dan pengembangan Intelectual Property Management Office (IPMO),” jelasnya.
Selama 76 tahun, UGM tidak hanya melahirkan tokoh kepemimpinan bangsa dan para penggerak pembangunan sosial ekonomi di berbagai bidang. Namun juga melahirkan berbagai karya riset dan inovasi yang dibutuhkan industri.
Di bidang energi, UGM berhasil mengembangkan inovasi untuk sumber alternatif Energi Baru Terbarukan (EBT) Biodiesel dan Bioetanol dalam kawasan hutan, yakni pengembangan bioetanol dari tanaman sorgum dimana 100 ml air gula sorgum tersebut dapat menghasilkan 60 ml bioetanol lalu 3 batang tanaman sorgum bisa menghasilkan 100 ml air gula sorgum.
“Dalam bidang pangan, inovasi UGM telah menghasilkan berbagai komoditas pangan dan pengolahan melalui label Gamafood,” ujarnya.
Di bidang teknik, berbagai inovasi juga telah dilahirkan dan diserap industri.
Sementara itu, di bidang sosio humaniora, berbagai engineering kebijakan dan penguatan fondasi masyarakat semakin meneguhkan relevansi kampus terhadap tantangan sosial.
Khususnya, di bidang inovasi kesehatan dan farmasi, UGM di antaranya berhasil melakukan hilirisasi produk seperti Rapid Assessment Diabetic Retinopathy (RADR), RZ-VAC (Vacuum Assisted Closure), Dental SilkBon, Divabirth, Aphrofit, dan Konilife Memora. Lalu ImunoGama Konilife Memora, Essonina, OST-D, Hesdrink.
“Sebanyak 1.825 publikasi internasional yang didominasi artikel jurnal dengan melibatkan 690 kolaborasi internasional,” paparnya.
UGM memiliki 12 Jurnal yang sudah terindeks di SCOPUS untuk mendukung peningkatan kuantitas dan kualitas publikasi UGM.
Capaian publikasi dan sitasi berdampak pada reputasi dosen di tingkat internasional. kolaborasi riset berpotensi untuk meningkatkan visibilitas dan dampak hasil riset yang lebih besar di komunitas ilmiah serta membantu peneliti untuk menyajikan solusi yang lebih komprehensif dan efektif.
“Kami cukup berbangga, di tahun ini, 14 Dosen UGM Masuk Top 2% World Scientist 2025 dirilis oleh Stanford University, naik dua kali lipat dari tahun sebelumnya yang hanya 7 dosen,” tandasnya.
Untuk hilirisasi dan komersialisasi riset, UGM juga melakukan penguatan dan pengawalan inovasi dengan tingkat kesiapan teknologi dimana adanya penerimaan royalti dari hasil Inovasi produk yang diadopsi oleh Mitra Industri seperti Pengiriman tahap pertama 10 ton Benih Gamagora ke PT. Agrinas, Hilirisasi Ventilator Venindo, dan Makloon Coklat UGM CTLI untuk ATJ dan Tokyo Food.
“Untuk padi Gamagora, produksi benih sudah mencapai 28,6 ton yang tersebar di 15 kabupaten dan kota diseluruh Indonesia,” ungkapnya.
Temukan Solusi Permasalahan Melalui Pengabdian Masyarakat
UGM mengembangkan pengetahuan tepat guna melalui program pengabdian dan KKN-PPM atau KKN Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat yang menjadi bagian dari program inklusif berdampak bagi masyarakat dalam menyelesaikan berbagai permasalahan.
Sepanjang tahun 2025 ini, UGM telah menerjunkan sekitar 9.242 Mahasiswa ke 35 Provinsi, 28 Kabupaten/ Kota dan lebih dari 500 Desa/Kelurahan.
Program ini juga berhasil memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan Kagama untuk pengembangan inovasi maupun peningkatan advokasi sosial sebagai bentuk penguatan kapasitas masyarakat. (oso/gp)
Editor : Bahana.