Namun, sejumlah guru di lapangan mengaku masih menghadapi kendala dalam hal ketersediaan buku ajar yang sesuai.
Yusuf Slamet Budiarjo, 51, guru Geografi di SMP Negeri 4 Banguntapan, mengungkapkan Kurikulum Nasional yang mengikuti instruksi Kementerian Pendidikan dengan perubahan pendekatan deep learning, materi yang berubah membuat buku-buku sebelumnya tidak lagi relevan.
Guru harus kreatif mencari dan menyesuaikan materi dengan menunggu buku terbaru.
"Siswa juga kesulitan karena belum memiliki buku, jadi pembelajaran bergantung pada kreativitas guru," ujarnya Jumat (30/5).
Perubahan dalam Kurikulum Nasional ini mencakup penggantian Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) menjadi 7 Kebiasaan Baik.
Tujuh kebiasaan baik anak Indonesia terdiri dari bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.
Kebiasaan-kebiasaan ini diharapkan dapat diinternalisasi oleh anak-anak sejak dini untuk membentuk karakter yang baik dan menjadi generasi penerus yang unggul.
Selain itu terdapat penerapan teaching factory dalam proses pembelajaran kerjasama dengan industri yang relevan. Serta penyisipan mata pelajaran baru seperti Artificial Intelligence dan Coding.
Meski begitu, menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMKN 3 Kasihan SMSR Suranto perubahan ini bersifat penyempurnaan, bukan perubahan total dari Kurikulum Merdeka.
“Modul ajar kembali ke RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Red) tapi tetap merujuk pada capaian pembelajaran dengan pendekatan deep learning,” jelasnya.
Walaupun bersifat hanya penyempurnaan dari Kurikulum Merdeka, tetapi tetap ada perbedaan dari kedua kurikulum tersebut.
Guru dan siswa tetap membutuhkan buku referensi yang sesuai dengan Kurikulum Nasional yang akan diterapkan dalam pembelajaran di tahun ajaran baru.
Meski persiapan terus dilakukan, ketiadaan buku ajar yang kurang memadai menjadi sorotan.
Para guru dan siswa diharapkan bisa beradaptasi secara kreatif, sembari menunggu distribusi buku dari pemerintah. (cr2)
Editor : Bahana.