JOGJA - Menyikapi perkembangan teknologi yang kian pesat, Universitas Gadjah Mada (UGM) mempertegas perannya dalam membangun ekosistem kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia.
Kepala Biro Transformasi Digital UGM Dr Mardhani Riasetiawan menyampaikan, UGM baru saja menggelar Sertifikasi AI Program elevAIte Batch 1.
Program ini diikuti 60 peserta terpilih dari kalangan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa UGM yang sebelumnya telah melewati pelatihan tahap awal.
"Program sertifikasi ini hasil kolaborasi antara UGM, Microsoft Indonesia, dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sebagai bagian dari Gerakan Nasional Satu Juta Talenta Digital," katanya Senin (13/5/2025).
Disebutkan, materi yang diberikan dalam sertifikasi mencakup dasar-dasar AI, etika dalam penggunaan teknologi, machine learning, hingga pemanfaatan berbagai layanan dari Microsoft.
Dengan tujuan menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten dan adaptif terhadap kebutuhan industri global.
"Sertifikasi ini menjadi langkah konkret UGM dalam membangun ekosistem AI di lingkungan kampus," paparnya.
Ia menuturkan, UGM ingin memastikan para peserta bukan hanya terlatih, tetapi juga bersertifikasi dengan standar industri.
Ini adalah validasi kesiapan mereka untuk terlibat aktif dalam transformasi digital nasional.
Berbeda dari pelatihan sebelumnya, Mardhani mengungkapkan program ini juga menjadi tahap seleksi kompetensi yang menilai kesiapan peserta untuk berperan sebagai pelatih, mentor, serta penggerak komunitas AI di lingkungan masing-masing.
Diharapkan, para peserta dapat menjadi duta transformasi digital yang mampu menginspirasi dan melatih lebih banyak pihak.
"Dari pelatihan ini, peserta diharapkan punya perspektif baru soal pentingnya penguasaan AI untuk masa depan berbagai bidang keilmuan," tambahnya.
Ia juga menekankan UGM berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan program sertifikasi ini ke berbagai institusi lain di bawah konsorsium Kampus Merdeka maupun mitra pemerintah daerah.
Ini sebagai langkah strategis mewujudkan Indonesia yang berdaulat dalam teknologi dan inovasi digital.
Sementara itu, salah seorang mahasiswa UGM Muhammad Rifai menyebut, sebagai mahasiswa ia tidak menampik bahwa keberadaan AI memang banyak membantu.
Langkah yang diambil kampus untuk menyesuaikan diri dengan teknologi AI juga sudah tepat dan relevan.
"Saya sendiri pro dengan AI. Tapi memang perlu ada regulasinya, termasuk do and don't dalam penggunaannya," ujar mahasiswa Teknik Fisika ini.
Sejauh ini, Rifai mengaku sudah cukup sering menggunakan bantuan AI dalam beberapa proses kuliahnya.
Termasuk melakukan perincian dan pengembangan gagasan dalam ide atau proyek mahasiswanya.
"Kalau stuck soal ide atau menjabarkan ide lebih rinci, biasanya pakai AI. Tapi tetap mengerjakannya sendiri," tandasnya. (iza/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita