RADAR JOGJA - Sinergi antar pendidikan tinggi terjalin melalui kolaborasi antara Universitas AKPRIND Indonesia dan Universitas Gunung Kidul (UGK).
Kolaborasi ini berfokus pada pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan teknologi tepat guna (TTG) untuk mendukung kawasan wisata dan produksi mie berbahan dasar ganyong di Desa Terbah, Gunungkidul.
Ketua Pendamping Kegiatan Dr. Syafriyudn,ST,MT mengatakan tujuan penerapan PLTS di kawasan wisata Terbah bertujuan untuk mendukung fasilitas wisata dan memperkenalkan konsep energi terbarukan kepada pengunjung.
Dengan memanfaatkan energi matahari sebagai sumber utama, PLTS ini dapat memenuhi kebutuhan listrik di area wisata, seperti pencahayaan, pusat informasi, dan sarana eduwisata.
"Para wisatawan dapat belajar tentang manfaat energi terbarukan yang ramah lingkungan, menjadikan Terbah sebagai destinasi edukasi sekaligus rekreasi yang mendukung kelestarian lingkungan," ujarnya, Senin (11/11/2024).
Menurutnya, kolaborasi ini merupakan langkah penting dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kebutuhan masyarakat.
Adanya program tersebut diharapkan dapat menjadi percontohan bagi kawasan lainnya.
"PLTS yang dikembangkan akan menyuplai kebutuhan listrik bagi pencahayaan dan pusat informasi, serta mendukung fasilitas wisata dengan energi bersih dan terjangkau," tuturnya.
Kolaborasi tersebut merupakan kegiatan Kolaborasi Membangun Masyarakat (Kosabangsa) yang didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun 2024.
Koordinator Program pihak UGK Limpat Wibowo Aji, ST., MT menjelaskan pentingnya teknologi ini untuk memaksimalkan potensi lokal.
Selain itu, Ganyong dinilai menjadi bahan makanan yang kaya kandungan karbohidrat yang perlu ditingkatkan produsiknya secara efisien.
"Dengan teknologi pemrosesan yang lebih baik, mie ganyong bisa dihasilkan dengan kualitas tinggi dan lebih tahan lama," ujarnya.
TTG untuk produksi mie ganyong ini diharapkan dapat memberdayakan pelaku UMKM setempat. Sebelumnya tanaman lokal tersebut diplah dengan tradisional.
“Dengan teknologi tepat guna yang kami bawa, produksi mie ganyong menjadi lebih efisien, higienis, dan berkualitas tinggi, sehingga bisa menjangkau pasar lebih luas,” tuturnya.
Sementara anggota tim Ir. Joko Waluyo, MT menambahkan bahwa dengan adanya program ini, AKPRIND dan UGK berharap dapat mendorong pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal sekaligus mewujudkan kawasan wisata Terbah sebagai destinasi berwawasan lingkungan dan inovatif.
Dukungan akademisi dan mahasiswa dari kedua kampus juga memastikan kegiatan ini akan berjalan berkesinambungan, memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat lokal.
"Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi model kemitraan yang strategis antara perguruan tinggi dan masyarakat, membuktikan bahwa pendidikan tinggi dapat berperan langsung dalam pembangunan daerah," ujar dosen Teknik Mesin Universitas AKPRIND Indonesia itu.
Dengan dukungan dari AKPRIND dan UGK, Terbah kini siap menjadi destinasi unggulan yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga edukasi teknologi ramah lingkungan serta pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. (oso)
Editor : Bahana.