RADAR JOGJA - Meski kurikulum merdeka dinilai sebagai langkah maju dalam reformasi pendidikan di Indonesia, tantangan yang dihadapi dalam implementasinya di lapangan masih cukup besar.
Dosen Fakultas Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (UCY) Intan Kusumawati menilai, kurikulum ini belum sepenuhnya mampu menjawab berbagai permasalahan pendidikan. Terutama terkait degradasi moral dan motivasi belajar siswa.
"Salah satu poin kritis adalah belum maksimalnya kurikulum merdeka dalam menghadapi tantangan degradasi moral," kata Intan Minggu (8/9/2024).
Oleh karena itu dia menekankan pentingnya kolaborasi antara guru, orang tua, dan masyarakat. Sekolah tidak bisa berdiri sendiri dalam membentuk karakter siswa. "Diperlukan peran aktif orang tua dan lingkungan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional seperti yang diamanatkan UU Sisdiknas," ujarnya.
Selain itu, kurikulum merdeka yang menghilangkan sistem reward dan punishment juga menjadi sorotan.
Banyak guru merasa kesulitan dalam memotivasi siswa tanpa adanya mekanisme penghargaan dan hukuman. "Pada pendidikan tradisional, reward dan punishment terbukti efektif untuk mendorong siswa belajar lebih giat," terangnya.
Namun dalam kurikulum merdeka motivasi harus muncul dari kesadaran siswa itu sendiri, dan ini tidak mudah. Dari sisi konten, kurikulum merdeka juga dianggap kurang mendalam.
"Materi yang disajikan lebih bersifat umum, sehingga guru dituntut lebih kreatif dan inovatif dalam menyampaikan pelajaran," ucapnya.
Maka tenaga pendidik harus banyak belajar dan berinovasi agar materi yang disampaikan bisa relevan dan mendalam bagi siswa. Selain itu, tantangan infrastruktur juga tak bisa diabaikan.
"Setiap sekolah memiliki fasilitas yang berbeda-beda, mempengaruhi kemampuan mereka dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka," jelasnya.
Sebab tidak semua sekolah memiliki sarana yang memadai untuk mendukung pembelajaran sesuai kurikulum baru ini. Terutama di daerah terpencil.
Dengan berbagai tantangan, Intan menyarankan agar pemerintah melakukan lebih banyak riset lapangan untuk mengetahui efektivitas kurikulum merdeka.
"Kolaborasi antara berbagai pihak serta inovasi dari guru juga menjadi kunci utama keberhasilan penerapan kurikulum ini," tegasnya.
Dalam implementasi kurikulum merdeka, pilihan mapel di SMA yang menjadi perhatian adalah kesiapan seorang guru dengan menggunakan model pembelajaran inovatif kreatif dan ramah kepada peserta didik.
"Guru perlu ikut pelatihan dan pendampinganyang kontinyu agar bisa diterapkan kepada siswa," jelasnya.
Kemudian guru bisa mendampingi serta membantu siswa dalam memilih mata pelajaran yang disukai, sesuai dengan minat bakat dan motivasi. (gun/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita