Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Magang dan Studi Independen Bersertifikat: Polemik Konversi SKS serta Solusi Terhadap Ketertinggalan Akademik

Meitika Candra Lantiva • Jumat, 30 Agustus 2024 | 22:34 WIB
Muhamad Sunendra, Mahasiswa Program studi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta.
Muhamad Sunendra, Mahasiswa Program studi Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta.

RADAR JOGJA - Mengejar karir seawal mungkin kini menjadi tren di kalangan mahasiswa.

Banyak dari mahasiswa berlomba-lomba mengoptimalisasikan profil LinkedIn serta portofolio.

Akibatnya, tidak sedikit mahasiswa yang mulai mengikuti program magang bahkan sejak semester pertama.

Fenomena ini mencerminkan kesadaran akan pentingnya pengalaman praktis dalam membangun karir di masa depan.


Sebagai respons terhadap kebutuhan ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) meluncurkan kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM), yang mencakup berbagai program, salah satunya adalah Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB).

Program MSIB memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman praktis dan pengetahuan baru selama satu semester penuh, dengan janji konversi SKS yang setara dengan 20 SKS.


Program MSIB memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan teknis serta non-teknis, sehingga mahasiswa lebih siap memasuki dunia industri.

Dengan adanya rekognisi SKS, mahasiswa diharapkan bisa fokus menjalani program tanpa terganggu oleh tuntutan akademik lainnya.

Namun, dalam praktiknya, program ini kerap menimbulkan polemik terkait proses konversi SKS yang tidak selalu relevan dengan posisi yang dijalani mahasiswa.

Akibatnya, banyak mahasiswa yang justru merasa dirugikan dan mengalami ketertinggalan akademik setelah mengikuti program ini.


Salah satu masalah utama yang muncul adalah relevansi antara posisi magang atau studi independen yang diikuti dengan mata kuliah yang dikonversikan.

Tidak jarang, alokasi 20 SKS yang diberikan terasa tidak sepadan dengan pekerjaan yang dilakukan.

Misalnya, seorang mahasiswa yang magang di bidang pemasaran mungkin menghadapi kesulitan ketika SKS-nya dikonversi untuk mata kuliah yang lebih teknis atau tidak berhubungan langsung dengan pemasaran.

Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan antara pengalaman praktis yang didapatkan dengan pencapaian akademik yang diharapkan.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan baru, apakah program MSIB memang tepat untuk diterapkan kepada mahasiswa?

Untuk mendukung pelaksanaan program MSIB, pihak kampus perlu melakukan persiapan yang matang.

Ada beberapa solusi yang dapat dipertimbangkan, di antaranya:

Pengembangan Mata Kuliah Pilihan Khusus: Kampus perlu mempertimbangkan untuk menambahkan mata kuliah pilihan yang relevan dengan posisi yang diambil oleh peserta MSIB.

Dengan begitu, konversi SKS bisa lebih relevan dan sesuai dengan capaian pembelajaran yang diharapkan.


Semester Pendek atau semester antara untuk Mengejar Ketertinggalan Akademik: Mahasiswa yang mengikuti program MSIB sebaiknya diberikan opsi untuk mengambil semester pendek guna mengejar ketertinggalan akademik.

Semester pendek ini bisa difokuskan pada mata kuliah inti yang mungkin tertinggal selama mahasiswa menjalani program MSIB.


Pendampingan Akademik dan Karir yang Intensif

Mahasiswa peserta MSIB perlu mendapatkan pendampingan yang lebih intensif, baik dalam hal akademik maupun karir.

Pendampingan ini bisa dalam bentuk mentoring, sesi bimbingan akademik, atau workshop pengembangan karir yang disesuaikan dengan pengalaman yang didapatkan selama MSIB.

Baca Juga: Sebentar Lagi Gajian? Ini Dia 5 Rekomendasi Self Reward Setelah Gajian untuk Memanjakan Diri Tanpa Merusak Kantong


Fleksibilitas dalam Penilaian dan Konversi SKS

Kampus perlu lebih fleksibel dalam menilai dan mengonversi SKS untuk program MSIB. Evaluasi sebaiknya tidak hanya berfokus pada kesesuaian materi, tetapi juga pada kompetensi yang diperoleh mahasiswa selama mengikuti program.


Program MSIB pada dasarnya menawarkan manfaat yang signifikan bagi mahasiswa, terutama dalam mempersiapkan mereka untuk memasuki dunia kerja dengan pengalaman praktis yang berharga.

Namun, untuk memaksimalkan manfaat tersebut, diperlukan penyesuaian dalam sistem konversi SKS dan dukungan yang lebih baik dari pihak kampus.

Dengan solusi-solusi yang diusulkan, diharapkan polemik yang muncul dapat diatasi, sehingga program MSIB bisa berjalan lebih efektif dan memberikan dampak positif yang maksimal bagi mahasiswa. 

 

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#upn #Mahasiswa #sks #Studi independen #ketertinggalan #konversi #Bersertifikat #MSIB #akademik #magang #polemik #Dunia Industri #solusi