Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dosen FK-KMK UGM Dr Eggi Arguni Ingatkan Bahaya Wabah Monkeypox, Disinyalir Bisa Menyebar Sewaktu-waktu

Fahmi Fahriza • Selasa, 27 Agustus 2024 | 15:25 WIB
Dosen FK-KMK UGM Dr. Eggi Arguni.Dokumentasi Pribadi 
Dosen FK-KMK UGM Dr. Eggi Arguni.Dokumentasi Pribadi 

 

RADAR JOGJA - Belakangan, wabah cacar monyet atau Monkeypox (Mpox) jadi sebuah wabah yang ramai dibicarakan. Sebab World Health Organization (WHO) sendiri telah menyerukan Mpox sebagai darurat kesehatan global. Dan dikhawatirkan menjadi pandemi selanjutnya setelah Covid-19.


Merespons situasi ini, dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) Dr Eggi Arguni yang berpengalaman menyikapi penyakit menular khususnya untuk anak-anak, memberi pandangan serta saran pencegahan terkait wabah Mpox di Indonesia.


Eggi menyampaikan, wabah Mpox ini pertama kali ditemukan tahun 1958 di Denmark. Diawali dengan dua kasus seperti cacar pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian. "Penyakit ini sebenarnya punya gejala sangat mirip dengan kasus smallpox (cacar) yang telah dieradikasi tahun 1980," katanya, Senin (26/8/2024).

Disebutkan, secara garis besar gejala Mpox lebih ringan daripada smallpox. Namun harus diantisipasi juga karena Mpox dapat menyebar sewaktu-waktu dan menjadi wabah di beberapa wilayah. "Masa inkubasi Mpox juga termasuk panjang, bisa sampai tiga minggu dan dapat menyebabkan virus menjadi lebih cepat tersebar luas," urainya.


"Penyakit ini bisa bersifat ringan dengan gejala 2-4 minggu, tapi bisa berkembang jadi berat dan menyebabkan kematian," sambungnya.


Eggi menyebut, sejatinya masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut, guna mengetahui secara pasti cara penularan wabah Mpox ini. Diakuinya, penularannya dapat melalui kontak langsung dan kontak tidak langsung.


Ia memaparkan, kontak erat bisa dengan cairan tubuh atau kulit orang yang terinfeksi. Lalu, kontak tidak langsung bisa pada benda yang terkontaminasi, atau droplet pernapasan. Serta kontak langsung melalui hubungan seksual. "Ruam di kulit, cairan tubuh, dan koreng itu juga bisa sangat menular," tuturnya.


Bahkan pakaian, tempat tidur, handuk dan alat makan yang terkontaminasi virus dari orang yang terinfeksi juga dapat menulari orang lain. Lebih lanjut, Eggi berujar, virus Mpox memiliki genomik DNA yang panjang.


Sehingga berdasarkan teorinya, virus ini akan mengalami evolusi yang lebih lambat dibanding virus dengan genomik yang lebih pendek, misalnya SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19.

"Para ahli terus mempelajari evolusi virus ini, karena ada perubahan pada virus yang bisa membuat timbulnya clade, yakni bagian dari virus yang mudah menular, dan menimbulkan sakit berat," paparnya.


Dari pantauannya, wabah Mpox ini telah disebut sebagai keadaan darurat oleh WHO karena memang telah menimbulkan banyak kematian. Meski sebagian besar orang yang mengalami Mpox punya gejala ringan, namun bentuk infeksi yang berat dapat menyebabkan kematian.

"Maka dari itu, penyakit ini tidak dapat dianggap remeh," tegasnya. "Penanganan dan pencegahan yang tidak akurat bisa menyebarkan infeksi virus ini, dan berpotensi jadi pandemi," lanjutnya.


Eggi berharap, agar pemerintah bisa segera membuat sosialisasi soal wabah Mpox kepada masyarakat. Khususnya tentang penyebaran dan gejala virus ini. Selain itu, testing juga harus dilakukan agar dapat diketahui kelompok orang yang terinfeksi dan lebih cepat memutus transmisi.


"Saya sarankan pemerintah buka jalur informasi seperti call center, jika ada info dari masyarakat agar bisa tersampaikan, dan pemerintah bisa ambil langkah-langkah mitigasi," harapnya.

Eggi juga berpesan, beberapa tindakan pencegahan transmisi yang dapat dilakukan oleh orang yang sudah terinfeksi. Antara lain untuk tetap di rumah, menghindari kontak erat dengan orang lain, menggunakan masker, rajin mencuci tangan, dan menutupi bagian tubuh yang terluka.


"Saat ini, vaksin Mpox dan antivirus juga telah dikembangkan, meski masih dalam jumlah yang sangat terbatas," urainya. (iza/eno)

Editor : Satria Pradika
#Pandemi #UGM #WHO #dosen #Covid-19 #world health organization #monkeypox