RADAR JOGJA - Praktik joki tugas dan skripsi jadi hal yang keberadaannya cukup masif di lingkungan kampus. Merespons hal ini, Dosen Pendidikan Sosiologi UNY Grendi Hendrastomo mewanti-wanti mahasiswa baru untuk mengindari penggunaan joki selama kuliah.
Grendi yang banyak meneliti kajian budaya dan media mengatakan, praktik joki bukanlah fenomena baru. "Sekarang lebih canggih, juga lebih terang-terangan menawarkan jasa jokinya," katanya kemarin (12/8).
Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk memiliki kompas moral dalam dirinya. Sehingga bisa membedakan hal-hal yang salah dan benar. Termasuk kompas moral dalam menyikapi fenomena joki tersebut. "Dunia kampus ini beda dengan dunia sekolah, problem di kampus lebih kompleks, tapi joki juga tetap bukanlah solusi," lanjutnya.
Menurut Grendi, masih eksisnya praktik joki ini, karena generasi muda mayoritas menginginkan suatu hal dengan cara instan. “Banyak yang tidak peduli proses, hanya fokus ke tujuan (nilai bagus dan IPK tinggi, Red). Akhirnya mengeliminasi hal-hal yang sifatnya moral dan aturan," bebernya.
Terpisah, mahasiswa yang pernah menggunakan jasa joki adalah Nur Hanif. Dia mengaku memanfaatkan joki untuk tugas kuliahnya.
"Waktu itu banyak ngerjain laporan praktik, dan ada mata kuliah yang nggak kepegang, akhirnya coba joki," kata lelaki alumni salah satu PTN di Jogja ini.
Namun menurutnya, praktik joki bukanlah sebuah pilihan bagi mahasiswa. Sebab akan memberikan stimulus untuk memanfaatkan lagi di lain kesempatan. "Ada teman yang kecanduan pakai joki, sampai skripsi. Saya malah bingung, tujuan dan yang dia dapat selama kuliah itu apa," ujarnya. (iza/eno)
Editor : Satria Pradika