Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

SMA 17 Yogyakarta Bertahan dengan 15 Siswa, Guru Ikut Iuran untuk Operasional Sekolah

Sevtia Eka Nova • Rabu, 29 Mei 2024 | 14:15 WIB
MASIH KOKOH: Gerbang sekolah yang digunakan bersama oleh SMA 17, SMP 17 “1”, dan SMP 17 “2” Yogyakarta.
MASIH KOKOH: Gerbang sekolah yang digunakan bersama oleh SMA 17, SMP 17 “1”, dan SMP 17 “2” Yogyakarta.



RADAR JOGJA - Jumlah murid SMA 17 Yogyakarta kini hanya tinggal 15 orang. Rinciannya terdiri dari 5 siswa kelas X, 7 siswa kelas XI, dan 3 siswa kelas XII. Meski demikian, para guru masih memilih untuk terus bertahan.


Alamat SMA ini berada di Gowongan Lor, Jetis, Jogja. Sebelumnya, lokasi sekolah sempat berpindah-pindah. Pernah menumpang di SMP 12 Yogyakarta hingga Universitas Janabadra di Gowongan. SMA 17 Yogyakarta harus berbagi tempat dengan SMP 17 “1” dan SMP 17 “2”. Ketiga sekolah ini mengatur jadwal penggunaan ruang secara bergantian.


Pembelajaran untuk SMA mulai pukul 09.00. Sedangkan SMP pada pukul 07.00 dan pukul 13.00. “Kita sudah sepakat agar estafet harus kita jalankan. Jadi istilahnya kita kerja bakti,” jelas Kepala SMA 17 Yogyakarta Bambang Eko Jati.


Menurut Bambang, sekolah ini pernah masuk pada masa kejayaannya pada tahun 80-an. Kala itu, sekolah mencapai 40 kelas. Kini para siswa SMA sendiri didominasi oleh lulusan SMP 17 “1” dan SMP 17 “2”. “Lulusan dari SMP masuk sini. Tidak dibuat repot, nanti bisa bayar semampunya dulu,” tambah Bambang.


Murid yang sedikit membuat dana bantuan dari pemerintah tak banyak. Mayoritas juga pemilik Kartu Menuju Sejahtera (KMS). Sehingga murid yang membayar hanya sedikit.


Karena itu, iuran antarguru untuk menutupi kekurangan operasional sekolah jadi hal biasa. Kondisi keuangan ini pada akhirnya berdampak pada bangunan sekolah yang tak terawat. “Gedungnya memang sudah lama. Belum ganti. Banyak yang rusak jadi tambal sulam, paling penting atasnya kuat,” lontar Bambang.


Bambang menuturkan kondisi demikian membuatnya membebaskan para guru untuk sembari mengajar di sekolah lain. “Kalau mengharapkan di sini jelas kurang. Mau mendaftar pegawai negeri pun ya silakan,” katanya.


Guru di SMA ini berjumlah 17 orang. Empat di antaranya adalah guru dari sekolah lain yang sekadar ikut membantu. “Ada empat guru yang usianya sudah pensiun, udah 65, tapi setia membantu kami,” katanya.


Guru Matematika Dedi Irfan menyebut, jika dirinya turut mengajar di sekolah lain sekaligus membuka les privat untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Hal ini mengingat gaji yang diperoleh menyesuaikan jam mengajarnya.


Dalam seminggu di SMA 17, Dedi hanya mengajar selama empat jam untuk kelas 10 dan empat jam untuk kelas 11. “Pengennya bisa seperti dulu. Ada dua rombel, IPA dan IPS. Kalau sekarang hanya IPS aja,” beber Dedi. (cr1/eno)

Editor : Satria Pradika
#operasional sekolah #SMA 17 Yogyakarta #Guru #Universitas Janabadra #biaya operasional sekolah