JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Keluargan Berencana (DP3AP2KB) meluncurka program baru yakni Sekolah Perempuan (Koper) Kota Jogja. Sekolah tersebut bertujuan untuk menampung dan memberdayakan perempuan rentan korban kekerasan di Kota Jogja yang akan direalisasikan bulan ini.
"Koper Kota merupakan sebuah inovasi dari salah satu bidang DP3AP2KB yaitu sekolah perempuan yang tentunya akan memberikan edukasi, motivasi sekaligus membekali keteranpilan bagi perempuan kota khususnya korban kekerasan," ujar Penjabat Walikota Jogja Singgih Raharjo saat ditemui di Komplek Balai Kota Timoho, Jumat (17/5/2024).
Sekolah tersebut akan direalisasikan pada bulan ini dengan fase percobaan atau kelas perdananya. Dalam penyelenggaraanya, Pemkot Jogja akan melibatkan seluruh Stake Holder terkait baik dari akademisi maupun praktisi untuk memberikan edukasi sesuai dengan konpetensi masing-masing.
"Sekolah bukan berarti ada gedung atau kepala sekolah, tapi minimal ini adalah wadah dimana terjadi pertemuan antara peserta atau siswa dan guru atau narasumber," tuturnya.
Singgih menjelaskan selain Koper sebagai sebuah akronim, Koper juga dapat dimaknai sebagai wadah yang tertutup, jika koper tersebut terbuka akan membuat berceceran isi didalamnya. Artinya, koper diibaratkan adalah sekolah perempuan dan isian koper diibaratkan peserta yang meliputi perempuan korban kekerasan.
"Kalau kita biarkan berceceran ya akan kemana mana, makanya kita wadahi pada sebuah koper yang wujudnya adalah sekolah perempuan yang mendorong pada hal hal positif," jelasnya.
Singgih menilai inovasi program perdana Pemkot Jogja tersebut relatif bagus. Sekanjutnya, inovasi tersebut bisa terimplementasi dengan baik agar pemanfaatanya bisa lebih optimal. Koper Kota Jogja bersifat tertutup yang artinya Pemkot Jogja berkomitmen untuk melindungi privasi dari para siswa atau peserta.
"Agar mereka (siswa) juga tidak merasa dikucilkan saat bersosialisasi di masyarakat," tandasnya.
Sejalan dengan itu, Kabid Pemberdayaan Perlindungan DP3AP2KB Kota Jogja Ria Rinawati menambahkan bahwa sekolah perempuan bisa tercetus dilatar belakangi dari jumlah kasus kekerasan perempuan di Kota Jogja yang relatif banyak. Ia beripikir para perempuan korban kekerasan tersebut kedepanya akan dibagaimanakan dan dari situlah ide Koper Kota Jogja muncul.
"Bentuk pemberdayaanya seperti pelatihan keterampilan dan sebagainya. Termasuk terkait literasi digital dan keuangan digital yang akan menjadi materi dalam sekolah perempuan," ujarnya.
Program perdana tersebut nantinya akan dikembangkan lagi jika dala pengaplikasianya berjalan dengan lancar. Artinya, peserta atau siswa sekolah tidak hanya perempuan korban kekerasan, tetapi bisa juga diikuti oleh kelompok rentan lain.
"Misalnya pernikahan usia anak yang sedang marak, itu kan perlu ada pendampingan dan pembekalan sendiri. Nanti akan bertahap," tuturnya.
Ria mengatakan jumlah siswa sekolah perempuan yang telah terdaftar sebanyak 25 sampai 30 perempuan. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin