JOGJA - Komunitas Sekolah Marjinal baru saja meresmikan pembukaan sekolah ketiga yang mereka inisiasi dan berlokasi di Lempongsari, Sleman.
Partnership Komunitas Sekolah Marjinal
Shindy Ainun mengatakan, pihaknya secara kolektif terus memperjuangkan hak dan fasilitas belajar melalui Sekolah Marjinal yang diperuntukkan bagi anak-anak dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah.
"Siswa kami kebanyakan dari anak-anak pemulung dan sebagian lagi anak-anak buruh," katanya, Senin (22/1).
Shindy merinci bahwa saat ini sekolah marjinal telah berdiri di tiga tempat, yang pertama di bilangan Babarsari dengan nama Sekolah Marjinal.
Lalu, di Trini dengan nama Sekolah Harapan. Terbaru di Lempongsari dengan nama Sekolah Cinde.
"Untuk total muridnya di tiga sekolah tersebut saat ini ada sekitar 50-an anak," sambungnya.
Shindy memaparkan, secara umum spirit yang diusung oleh Komunitas Sekolah Marjinal adalah menjadi komunitas yang bergerak dalam bidang pendidikan, kesehatan, serta advokasi bagi kaum marjinal yang saat ini berpusat di Yogyakarta.
Pada momentum pembukaan sekolah ketiga tersebut, tidak hanya ada seremonial pembukaan.
Shindy menyebut, dilakukan juga pemeriksaan kesehatan gratis seperti cek tensi, cek gula darah, kolesterol, dan asam urat.
"Semangat kami terus membantu teman-teman untuk mendapat hak yang sama dengan lainnya," serunya.
Ke depannya, mewakili Komunitas Sekolah Marjinal Shindy mengungkapkan, memiliki target secara kolektif.
Baca Juga: Komplotan Klitih Salah Sasaran Diringkus Polisi di Jogja, Bacok Korban yang Hendak ke Warung Makan
Yakni, anak-anak yang tergabung di Sekolah Marjinal bisa mendapatkan hak mereka kembali pada sektor-sektor formal baik dari pendidikan maupun kesehatan.
"Anak-anak sekolah marjinal semoga bisa mendapat hak-hak mereka, seperti kembali bersekolah dan juga meningkatkan kualitas bidang kesehatan," harapnya. (iza)