RADAR JOGJA - Layanan pendidikan bagi para penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sudah berjalan di 17 provinsi di Indonesia. Seperti di Sulawesi Barat, Sumatera Utara, hingga Kalimantan Selatan. Bahkan, buku teks pembelajaran Kurikulum Merdeka sudah siap diimplementasikan.
Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat (KMA), Dirjen Kebudayaan, Kemendikbudristek Sjamsul Hadi menyebut, meski buku teks sudah siap, tapi masih ada pekerjaan rumah (PR) yang harus segera diselesaikan. Utamanya terkait tenaga pendidik.
Dia mengutarakan, Direktorat KMA bekerja sama dengan Untag Semarang untuk menyiapkan mahasiswanya menjadi pendidik. Sebab, di Untag, sudah ada program studi (prodi) Pendidikan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Baca Juga: Selama Seminggu Gunung Merapi Keluarkan Guguran Lava 147 Kali, Paling Banyak ke Arah Kali Bebeng
Para mahasiswa itu diperkirakan lulus 2025. Pihaknya akan mendorong mahasiswa yang sudah lulus untuk bisa langsung mengabdikan diri. “Sebagai tenaga pendidik atau guru mata pelajaran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa," ujar Sjamsul di Balkondes Ngargogondo, Jumat (22/12).
Nantinya, mereka akan difokuskan pada daerah yang memiliki peserta didik terbanyak dari 17 provinsi tersebut. Di setiap kabupaten/kota pun memiliki jumlah peserta didik yang beragam. Kemendikbudristek pun berkomitmen untuk melayani para peserta didik yang merupakan Penghayat Kepercayaan.
Saat ini, jumlah mahasiswa prodi Pendidikan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ada 25 orang. Tersebar di beberapa perguruan tinggi. Bahkan, ada yang mahasiswanya hanya satu. “Mereka (kampus) menginformasikan kepada kami dan kami mencari dosen yang memberikan mata kuliah itu," jelas dia.
Baca Juga: Bedah Buku Haji Ibadah, Haji Ilmiah Prof Al Makin, Dikupas Romo Budi Subanar dan Romo Yudono Suwondo
Kemudian, jumlah peserta didik Penghayat Kepercayaan berjumlah 2.168 anak, dari tingkat SD hingga SMA. Sebetulnya, lanjut dia, perangkat pembelajaran bagi mahasiswa maupun peserta didik, sudah dipersiapkan. Namun, hal itu dikembalikan kepada para Penghayat Kepercayaan. Hendak dimanfaatkan atau tidak.
Sementara untuk jumlah Penghayat Kepercayaan, lanjut dia, masih berproses. "Misalnya di wilayah Sumba Timur, NTT warga Penghayat Kepercayaan ada 17 ribu. Sumba Tengah ada 16 ribu. Kalau Jawa, ada sekitar 3.000-an," sebutnya.
Dia menilai, banyak masyarakat yang cenderung memiliki ketakutan untuk mengganti identitas pada KTP-nya. Padahal, kata Sjamsul, pemerintah sudah melindungi dan memberi ruang bagi para Penghayat Kepercayaan.
Baca Juga: Masih Banyak Sampah Liar, Ringroad Selatan Wojo Bantul Dipasangi Spanduk 42 Meter
Namun, pemerintah masih terus berupaya memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Menurutnya, perlu ada pendekatan khusus dan kesadaran masyarakat untuk mengubah KTP-nya. Terlebih, Kemendikbudristek memiliki tim advokasi apabila ada kendala dalam layanan para Penghayat Kepercayaan.
Dia menyebut, ada satuan tugas (satgas) yang sengaja dibentuk melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X agar lebih dekat dengan masyarakat. "Agar bisa lebih cepat penanganannya. Untuk layanan pendidikan, SD-SMA sudah clear. Saat ini, tantangannya adalah menyiapkan tenaga guru," bebernya.
Pemkab Magelang pun sudah membuka ruang dan melayani apabila ada peserta didik Penghayat Kepercayaan. Tapi, masyarakatnya masih ada keraguan. “Nanti kesulitan untuk mengubah KTP, anak-anak sulit mendapat pekerjaan, sulit lulus, dan lainnya. Ini perlu kami mensosialisasikan lebih dalam lagi," imbuhnya. (aya)
Editor : Heru Pratomo