RADAR JOGJA - Tim pengabdian masyarakat skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah (PBW) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali mendampingi Kalurahan Wirokerten menuju Desa Mandiri Budaya tahun 2025. Kali ini kegiatan dikemas dengan konsep Fullboard Meeting. Yakni pelatihan pembuatan destinasi wisata dan budaya berbasis lingkungan aman bencana.
Diikuti 24 peserta, kegiatan berlangsung selama dua hari di Griya Persada Convention Hotel and Resort Kaliurang, Sabtu (30/9). Mereka terdiri dari lembaga yang berkaitan dengan wisata, budaya, dan UMKM yang berada di wilayah Kalurahan Wirokerten.
Ketua Tim PBW UMY Sakir Ridho Wijaya mengungkapkan, kegitan ini merupakan pendampingan lanjutan setelah sebelumnya dibentuk 29 Agustus 2023. Sebelumnya, program lebih berfokus pada pendampingan pembentukan rintisan Desa Budaya dan Desa Wisata. Hal tersebut dimaksudkan guna memperkokoh pilar budaya dan wisata di Kalurahan Wirokerten sendiri.
Kali ini, merupakan kegiatan lanjutan. PBW UMY kata Sakir, mendapat dana dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Tim PBW UMY sendiri kembali mendampingi Kalurahan Wirokerten membuat destinasi budaya-wisata. Salah satu objek wisata budaya yang siap direalisasikan yakni Pasar Blumbang Mataram.
“Paket wisata ini nantinya akan menjadi alternatif untuk mengintegrasikan potensi wisata, budaya, dan UMKM dalam mendukung Kalurahan Wirokerten mencapai Desa Mandiri Budaya pada tahun 2025,” tegasnya.
Sakir menambahkan, pendampingan memiliki tiga tema beserta tujuan pelaksanaan. Adapun tema dan tujuan tersebut diantaranya Manajemen Desa Wisata Budaya: Pengintegrasian Wisata Budaya dan UMKM Berbasis Potensi Lokal Melalui Pembuatan Paket Wisata Ramah Lingkungan, Transformasi Desa Mandiri Budaya : Strategi Pengelolaan Rintisan Desa Budaya Berkelanjutan Menuju Desa Mandiri Budaya Pada Tahun 2025, dan Seni Kepemimpinan dan Berbicara d i Depan Umum: Kombinasi Keterampilan Berbicara untuk Pengembangan Desa Wisata dan Desa Budaya yang Inklusif.
“Kami mengidetifikasi potensi lokal, pengembangan UMKM, mendorong keterlibatan komunitas serta mengaktifkan partisipasi aktif komunitas tersebut dalam pengembangan dan manajemen Desa Wisata Budaya,” tambah Dosen Ilmu Pemerintahan UMY itu. (sce/ila)
Editor : Reren Indranila