Presiden Badan Kepausan untuk Dialog Lintas Agama Vatikan ini menilai gelar yang dia terima menjadi pelecut secara personal. Terutama untuk menjaga keberagaman dan persaudaraan manusia. Sehingga menjadi tanggungjawab semua umat manusia merawat nilai-nilai ini.
“Hari ini, saya merasa seperti menjadi Indonesia. Saya merasa sebagai bagian dari negara cantik ini. Dahulu, mereka (Vatikan) pernah datang ke negara ini tetapi begitu sebentar. Tetapi, sekarang saya punya jaringan di sini, jaringan persaudaraan,” jelasnya ditemui usai pemberian gelar Doctor Honoris Causa di kampus UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, Senin (13/2).
Baginya, ini adalah komitmen yang perlu dijaga dan lestarikan. Terlebih Indonesia memiliki semangat sama yang terangkum dalam Pancasila. Sehingga dapat menjadi contoh bagi negara - negara lainnya dalam memaknai keberagaman.
“Ini sekaligus jaringan yang punya tanggung jawab bersama untuk mendukung berjalannya Pancasila, suatu semangat bersatu dalam keragaman dari negara ini,” katanya.
Miguel menilai kerukunan yang terbentuk bukanlah sebuah hadiah. Semangat ini lahir karena adanya kesepakatan bersama. Selain itu juga usaha semua pihak untuk mewujudkan dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tugas generasi penerus, lanjutnya, adalah membuat semangat ini terus tumbuh. Tidak hanya dalam lingkup yang sama namun lebih luas. Sehingga upaya menjaga kedamaian dalam keberagaman menjadi tanggungjawab seluruh umat manusia.
“Saat ini, saya merasa bertanggungjawab atas hal ini. Dan, saya akan menjaga persatuan ini sebagai representasi dari Vatikan. Dengan demikian, hubungan antar katolik dan Islam, lewat NU dan Muhammadiyah, akan senantiasa terjaga,” ujarnya.
Rektor UIN Sunan Kalijaga Al Makin menuturkan pemberian gelar Doctor Honoris Causa melalui proses yang panjang. Selain Kardinal Miguel adapula Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Dewan Pakar Majelis Pelayanan Sosial PP Muhammadiyah Sudibyo Markus. Keduanya ditasbihkan atas perannya dalam membangun persaudaraan dalam keberagaman kemanusiaan.
Al Makin menilai peran ketiganya sangatlah penting. Tak sekadar konteks nasional tapi juga internasional. Tentunya melalui kendaraannya masing-masing, yaitu Vatikan, Nahdlatul Ulama dan PP Muhammadiyah.
“Ini yang kita perlukan untuk Indonesia. Perlu kita munculkan ke publik tidak hanya yang membuat berita heboh dan viral gitu ya yang di viral-viralkan tetapi pemimpin yang baik, pemimpin yang menjadi tauladan yang bisa kita ikuti semua,” katanya.
Al Makin ingin pemberian gelar ini menjadi inspirasi bagi civitas akademik. Terutama untuk menghadirkan kembali dialog tentang kemanusiaan. Sehingga mampu melihat dan menyikapi realitas yang saat ini muncul di masyarakat
“Kebetulan ketiga tokoh ini sudah mempraktikan. Tentunya ini wajib menjadi contoh yang ideal bagi kita semua,” ujarnya. (dwi) Editor : Editor News