Karena itulah Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya menjaga sumber nutrisi protein demi menjaga ketahanan pangan nasional dan global. “Satu di antaranya dengan menggalakkan sektor pertanian swasembada pangan. Kementan juga memiliki program yang terintegrasi, yakni penyediaan komoditas jagung, ikan, padi, dan unggas lokal,” tuturnya dalam setiap kesempatan.
Pada kesempatan lain, Kepala Badan Penyuluhan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi menuturkan, produktivitas protein hewani sangat dipengaruhi oleh kesehatan hewan. “SDM yang paham dan mampu memberikan informasi pengetahuan tentang kesehatan hewan juga berpengaruh dalam peningkatan produktivitas protein hewani,” tuturnya.
Hal itu selaras dengan Seminar Nasional IV Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Pobangtan YoMa), Rabu (22/6/2022).
Seminar tentang Ketersediaan Protein untuk Ketahanan Pangan Indonesia itu sekaligus menjadi rangkaian acara dies natalis ke-4 Polbangtan YoMa.
Direktur Polbangtan YoMa mengatakan, cadangan pangan di Indonesia harus terus ditingkatkan. Apalagi saat ini kondisi musim tidak menentu. Oleh karena itu, upaya mendongkrak produk hasil pertanian off season atau yang tidak mengenal musim harus digalakkan.
Terkait hal tersebut, kata Bambang, smart farming menjadi pilihan untuk mendongkrak produktivitas pertanian. Sekaligus untuk menggalakkan keikutsertaan petani milenial. “Saat ini dunia pertanian membutuhkan pemikiran-pemikiran dan teknologi modern. Semua itu dapat menunjang produktivitas pertanian dan mengangkat potensi pangan lokal,” tuturnya.
Menurut Bambang, ketika negara tidak melakukan ekspor maka produktivitas pangan di Indonesia akan melimpah. Terlebih Indonesia merupakan negara agraris. Hasil pangan juga bisa didiversifikasi. Sehingga negara tidak hanya mengandalkan satu atau dua komoditas pangan. (aya/yog) Editor : Editor Content