Pemerintah Indonesia dalam komitmennya sesuai Paris Agreement, sebuah kesepakatan global untuk menghadapi perubahan iklim, berupaya memenuhi target 23 persen bauran energi di tahun 2025.
Komitmen untuk mewujudkan hal tersebut membutuhkan sinergi multi-stakeholders, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, BUMN, institusi pendidikan, serta perusahaan swasta.
Perguruan tinggi sebagai stakeholders yang memiliki peranan penting dalam edukasi, penelitian dan pengembangan teknologi energi surya, diharapkan dapat mencetak generasi muda yang dapat mengembangkan energi hijau, khususnya tenaga surya sebagai alternatif sumber energi listrik.
Hal itu pula yang mendasari Kerjasama SV UGM (Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada) dan SUN Energy. Dekan SV UGM, Agus Maryono berharap kerjasama ini sesuai dengan Tridharma perguruan tinggi dan dapat dilaksanakan secepatnya pada tahun ini.
Kegiatan belajar-mengajar yang menghadirkan dosen praktisi dari SUN Energy untuk mendukung pengembangan kurikulum baru mengenai energi baru dan terbarukan, pelaksanaan program pengabdian masyarakat di beberapa desa, hingga penelitian teknologi tenaga surya diharapkan dapat mencetak lulusan yang berkualitas dan siap kerja di industri masa depan.
Jika itu terwujud mampu mendorong sumber daya manusia untuk terus meningkatkan pendidikan di bidang ini hingga jenjang yang lebih tinggi.
“SUN Energy senang dan bangga, penandatanganan nota kesepahaman dengan SV UGM ini mengawali serangkaian kegiatan perayaan HUT ke-5 SUN Energy selama satu bulan ke depan. Untuk itu, sesegera mungkin komitmen SUN Energy kepada SV UGM dapat dilaksanakan pada bulan ini," jelas Direktur SUN Energy, Garry Perdana dalam penandatanganan nota kerjasama SV UGM dengan SUN Energy yang digelar secara virtual, Rabu (18/8).
Perwujudan kerjasama ini, terdiri dari empat poin, yaitu implementasi pembangunan PLTS sebagai energi alternatif di bangunan kampus, pengembangan Tempat Uji Kompetensi dan Lembaga Sertifikasi Profesi di sektor energi tenaga surya, peningkatan pengetahuan melalui kuliah umum dengan dosen tamu dari SUN Energy satu bulan sekali, penyerapan tenaga sumber daya manusia menjadi karyawan magang dan pengabdian masyarakat di daerah KKN.
Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Fabby Tumiwa mengatakan setiap 1 GW akan membuka lapangan kerja sebanyak 20.000 – 30.000 orang dan transisi energi hijau ini diproyeksikan akan menciptakan 3,6 juta lapangan kerja hingga 2050.
Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan KESDM, Chrisnawan Anditya memaparkan demi menurunkan dampak emisi gas rumah kaca, penyediaan energi bersih melalui energi surya menjadi salah satu strategi yang paling mudah dan tepat saat ini.
Berdasarkan grand strategi energi nasional 2020 -2035, pemerintah mengharapkan tambahan pembangkit listrik energi baru terbarukan sebesar 38 GW dengan prioritas pada pembangkit listrik tenaga surya, mengingat potensi tenaga surya yang berlimpah, kecepatan konstruksi dan harga yang semakin kompetitif.
"Pemerintah membutuhkan dukungan bersama, baik pelaku usaha, asosiasi, akademisi dan generasi muda. Keterlibatan akademisi maupun generasi muda melahirkan inovasi baik dalam pengembangan EBT, pemanfaatan energi surya dan sosialisasi kepada masyarakat.
Kementrian ESDM menyambut baik kerjasama ini, serta berharap kegiatan ini dapat berkontribusi maksimal terhadap pengembangan EBT khsusunya tenaga surya dan juga menjadi insiatif bagi pendidikan tinggi lainnya,”ujarnya.
SUN Energy berkomitmen untuk terus mendorong penggunaan energi surya, serta mengembangkan kolaborasi dengan pihak-pihak kompeten untuk mempercepat visi Indonesia dalam menciptakan energi baru terbarukan yang ramah lingkungan dengan pemanfaatan tenaga surya. (om2/sky) Editor : Editor News