MAGELANG - Ratusan pimpinan DPRD dari seluruh Indonesia mengikuti program retret di kompleks Akademi Militer (Akmil) Magelang, 15-19 April. Kegiatan ini diarahkan tidak hanya untuk memperkuat kapasitas teknokratik, tetapi juga membentuk karakter kepemimpinan yang berintegritas.
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan, pembinaan terhadap pimpinan daerah tidak bisa dilakukan secara instan. Dia mengibaratkan proses tersebut seperti keimanan yang membutuhkan penguatan terus-menerus.
"Pembinaan itu seperti keimanan. Ngaji sekali belum tentu saleh seumur hidup. Artinya, pengawasan dan pembinaan integritas itu harus terus-menerus, sistemis dari hulu ke hilir," ujarnya usai membuka retret di Magelang, Kamis (16/4).
Baca Juga: Jateng Bakal Dibangun Peternakan Sapi Perah Terbesar, Kapasitasnya Capai 30 Ribu Ekor
Dalam forum tersebut, pemerintah menyoroti pentingnya penyamaan perspektif di antara para pimpinan DPRD. Bima menyebut, ada tiga cara pandang utama yang ingin diselaraskan.
Pertama, pemahaman terhadap dinamika geopolitik global yang kini berdampak langsung hingga ke tingkat daerah. Kedua, pemahaman terhadap program prioritas nasional yang dinilai belum sepenuhnya dipahami dan dijalankan secara optimal di daerah. Ketiga, cara pandang dalam mengelola pemerintahan. "Di tangan pimpinan DPRD inilah sinkronisasi pusat dan daerah sangat ditentukan," kata Bima.
Gubernur Lemhannas RI Ace Hasan Syadzily menyebut, program ini diikuti lebih dari 500 ketua DPRD dari tingkat provinsi, kabupaten, hingga kota. Kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat peran DPRD dalam sistem pemerintahan nasional.
"DPRD memiliki fungsi penting, mulai dari penganggaran, legislasi, hingga pengawasan. Karena itu harus ada keselarasan dengan pemerintah pusat," terangnya.
Selama lima hari pelaksanaan, peserta mendapatkan materi tentang empat konsensus kebangsaan, wawasan geopolitik global, serta program prioritas nasional yang menjadi bagian dari visi pembangunan pemerintah.
Tidak hanya berlangsung di ruang kelas, retret ini juga menggabungkan pendekatan fisik dan kedisiplinan. Kegiatan seperti senam pagi hingga latihan baris-berbaris menjadi bagian dari upaya membangun kebersamaan dan karakter kepemimpinan.
"Di sini tidak hanya transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, dan semangat kebangsaan," sambungnya.
Dia menambahkan, pelaksanaan retret ini juga dilatarbelakangi oleh perubahan global yang semakin cepat dan tidak linear. Disrupsi teknologi, pergeseran geopolitik, hingga ketidakpastian ekonomi global menjadi tantangan yang harus direspons oleh kepemimpinan daerah. (aya/pra)
Editor : Heru Pratomo