Bagi warga Kota Jogja, setahun kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Jogja mulai dirasakan. Berbagai program yang sudah dijalankan, meski baru setahun, terasa dampaknya. Dari yang sederhana seperti bedah rumah hingga pengolahan sampah, penataan kawasan dan pemberdayaan pelaku ekonomi kerakyatan.
Secara fisik yang terlihat seperti beberapa ruas jalan yang kini bersih. Tak hanya bersih dari sampah, tapi juga nyaman untuk pedestrian. Karena pedagang kaki lima (PKL), yang dulu berada di trotoar diberikan ruang di pasar-pasar tradisional.
Baca Juga: Tujuh Dusun di Prambanan Terdampak Cuaca Ekstrem, Bangunan Roboh Hingga Pohon Tumbang
Selain lokasi, pada sektor ekonomi kerakyatan, program pendampingan pemerintah kepada pelaku UMKM dinilai sudah cukup optimal. Hal itu yang dirasakan oleh Rita Indriana. Pemilik usaha mainan edukatif ABC Wooden Toys ini menyebut pemerintah sudah banyak membuka peluang agar UMKM tidak hanya bertahan, namun naik kelas.
Rita menyampaikan, sinergitas antara pelaku UMKM dengan pemerintah yang selama ini terbentuk adalah pendampingan legalitas usaha. Misalnya melalui sosialisasi nomor induk berusaha (NIB) dan dorongan agar usaha memiliki sertifikat halal dan SNI
Selain aspek legalitas, pemerintah juga fokus membuka bantuan pemasaran. Rita menyampaikan di bawah kepemimpinan Hasto Wardoyo dan Wawan Harmawan, pemkot sering memfasilitasi para pelaku UMKM untuk tampil dalam berbagai pameran
“Ada program business matching online maupun offline. Ini sangat mendukung pemasaran kami untuk menjangkau pasar yang lebih luas di luar Kota Jogja," katanya.
Kendati program pemkot sudah bagus, Rita meminta ada beberapa peningkatan program pendampingan yang selama ini sudah berjalan. Sebab ekosistem UMKM di Kota Jogja ibarat seperti pohon yang tidak hanya harus terus tumbuh tinggi. Namun juga harus memiliki akar yang kuat.
Dia menekankan, di tahun-tahun berikutnya, kepemimpinan Hasto-Wawan harus bisa membantu mencarikan jaringan bagi pelaku UMKM di tingkat pusat. Supaya pelaku usaha kecil dari Kota Jogja bisa tampil di kancah nasional hingga internasional.
Baca Juga: DIY Mengundurkan Diri untuk Menjadi Tuan Rumah PON XXIII 2032, Ini Alasannya
“Kami ingin berkolaborasi bukan hanya di lingkup Kota Jogja, tapi juga di tingkat DIY hingga nasional," pinta Rita.
Selain pelaku usaha, warga miskin pun mendapat perhatian. Salah satunya disampaikan Slamet Priyo Utomo, yang kediamannya termasuk rumah tidak layak huni (RTLH). Warga Kemantren Tegalrejo itu menjadi penerima bantuan bedah rumah. Yang menarik, Hasto-Wawan berkomitmen merehab RTLH tanpa anggaran dari APBD. Tapi dengan melibatkan swasta dan Baznas.
Menurut Slamet, program perbaikan rumah tidak layak huni yang dicanangkan oleh pemkot sangat dirasakan manfaatnya. Terkhusus bagi masyarakat berpenghasilan rendah seperti dirinya.
Baca Juga: Link Live Streaming Pegadaian Championship Kendal Tornado FC vs PSS Sleman Minggu 29 Maret 2026
“Soalnya kalau mau memperbaiki sendiri ya tidak mampu, hasil kerja cuma cukup untuk makan saja,” ujar pria yang sehari-hari bekerja sebagai tenaga kasar di toko material ini.
Slamet menyampaikan, sebelum menerima bantuan bedah rumah kondisi tempat tinggalnya cukup memprihatinkan. Dia bersama istrinya tinggal pada rumah yang lantainya beralaskan bata dan atapnya hampir roboh.
Kondisi tersebut tentu seringkali membuat suasana di dalam rumah terasa kurang nyaman. Lantaran lembab dan sering bocor ketika musim penghujan.
Baca Juga: Kunjungi Radar Jogja, PSS Tegaskan Promosi Liga 1 Musim Ini
Namun berkat bantuan bedah rumah yang terealisasi pada medio Oktober lalu, huniannya kini mengalami perubahan signifikan. Sebab perbaikan cukup kompleks karena meliputi pemasangan keramik pada lantai, pemasangan plafon triplek, hingga penggantian struktur atap menggunakan material galvalum, termasuk di area dapur.
"Harapan saya program seperti ini dilanjutkan, karena yang kekurangan seperti saya ini masih banyak. Masih banyak yang butuh bantuan," tandasnya.(inu)
Editor : Heru Pratomo