“Jangan sombong dengan mazhabmu, apalagi sampai menyesatkan golongan lain. Bisa jadi, doktrin-doktrin yang engkau banggakan bukan berasal dari Nabi, tetapi hasil koalisi penguasa dan otoritas agama.” Kalimat ini penting sebagai refleksi terhadap cara umat Islam memandang sejarah—terutama sejarah masa sahabat Nabi.
Sejarah Islam, sebagaimana sejarah pada umumnya, tidak pernah bebas dari pengaruh kekuasaan dan ideologi. Dalam kalangan sejarawan, ada adagium terkenal: history is written by the victors—sejarah ditulis oleh para pemenang.
Hal ini bukan hanya berlaku pada sejarah Barat, tetapi juga sejarah Islam, terutama pada masa pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, ketika umat Islam memasuki era politik transisi yang sarat konflik dan rivalitas kekuasaan.
Dua Arus dalam Menyikapi Sejarah Sahabat
Secara umum, dalam tubuh umat Islam berkembang dua arus besar dalam menyikapi sejarah para sahabat Nabi: Sunni dan Syiah.
1. Pendekatan Sunni: Harmonisasi dan Kegamangan Tafsir
Kalangan Sunni umumnya mengambil sikap yang hati-hati terhadap konflik internal para sahabat, khususnya yang berujung pada pertumpahan darah seperti Perang Jamal dan Perang Shiffin. Hal ini dilatarbelakangi oleh tiga faktor utama:
Faktor Politik: Dominasi kekuasaan dinasti-dinasti Sunni—seperti Bani Umayyah, Abbasiyah, dan Turki Utsmani—berperan besar dalam pembentukan doktrin keagamaan yang mensucikan para sahabat. Banyak narasi sejarah, termasuk dalam beberapa koleksi hadis, dikodifikasi dalam konteks stabilisasi kekuasaan dan peredaman konflik internal umat. (Lihat: Khalid Abou El Fadl. Menyingkap Kepalsuan Salafi-Wahabi: Mencari Islam yang Ramah dan Toleran. Terj. Saifuddin Zuhri Qudsy)
Trauma Sosial dan Politis: Munculnya konsep Khulafa al-Rasyidin dipahami sejumlah sejarawan sebagai upaya rekonsiliasi umat Islam setelah konflik berdarah sejak terbunuhnya Utsman bin Affan. Penegasan empat khalifah awal sebagai panutan dan adil digunakan untuk meredam perpecahan umat. Konsep ini diyakini dipopulerkan pada masa Umar bin Abdul Aziz. (Lihat: Wilferd Madelung. Suksesi Kepemimpinan Nabi: Kajian tentang Kekhalifahan Awal. Terj. Farid Wajdi)
Doktrin ‘Adalat al-Sahabah’: Ajaran bahwa semua sahabat Nabi adil dan tidak perlu dikritisi sejarahnya menjadikan umat enggan mempertanyakan motif atau peran sahabat dalam konflik politik. Doktrin ini banyak dianut ulama ahli hadis klasik seperti Imam al-Nawawi dan Ibn Hajar al-Asqalani.
Namun sikap tersebut juga menimbulkan problem metodologis ketika dihadapkan pada kritik sejarah. Banyak narasi populer, terutama di media sosial dan kanal YouTube, mengulang cerita-cerita yang sulit diverifikasi secara akademik, seperti peran sentral Abdullah bin Saba dalam seluruh konflik besar Islam. Ibn Saba disebut sebagai provokator dalam pembunuhan Utsman, Perang Jamal, dan bahkan Shiffin—tanpa sumber primer yang kuat selain beberapa riwayat lemah dalam kitab Tarikh al-Tabari. (Lihat: Sayyid Murtadha al-Askari. Abdullah bin Saba dan Legenda-Legenda Sejarah Lainnya)
2. Pendekatan Syiah: Kritik Historis dan Perspektif Imamiyah
Sebaliknya, kalangan Syiah mengembangkan pendekatan sejarah yang lebih kritis terhadap para sahabat, terutama yang mereka nilai telah menyimpang dari wasiat Nabi. Bagi Syiah, kepemimpinan pasca wafat Nabi semestinya diberikan kepada Ali bin Abi Thalib, bukan melalui proses musyawarah di Saqifah Bani Sa’idah.
Karena tidak mengakui doktrin ‘Adalat al-Sahabah, Syiah Imamiyah memandang para sahabat sebagai manusia biasa yang bisa salah dan khianat terhadap amanah Nabi. Kritik Syiah terhadap peristiwa-peristiwa seperti pemilihan Abu Bakar, konflik Fadak antara Fatimah dan Abu Bakar, Perang Jamal, hingga tragedi Karbala dibangun atas keyakinan bahwa kekuasaan telah direbut dari jalur yang sah. (Lihat: Muhammad Husain al-Mudhafar, Aqidah al-Imamiyyah)
Namun perspektif ini juga tidak luput dari subjektivitas. Sebagian pengikut Syiah ekstrem mengkafirkan tokoh-tokoh besar seperti Abu Bakar, Umar, dan Aisyah. Sikap ini dikritik oleh banyak ulama, termasuk dari kalangan Syiah moderat sendiri, seperti Muhammad Mahdi Shams al-Din dan Ayatollah Murtadha Mutahhari, yang menekankan pentingnya mengedepankan argumentasi ilmiah, bukan cacian. (Lihat:
Murtadha Mutahhari. Tragedi Karbala: Antara Mitos dan Fakta Sejarah)
Kebutuhan Perspektif Ketiga: Kritis dan Objektif
Di antara dua arus tersebut, umat Islam sejatinya memerlukan pendekatan ketiga yang lebih seimbang: kritis terhadap narasi sejarah, tetapi juga objektif secara akademis dan etis. Perspektif ini berangkat dari premis bahwa sahabat adalah manusia—mereka mulia, tetapi tidak maksum. Sebagian mereka bisa terlibat dalam konflik, salah tafsir, bahkan terjerumus dalam dosa politik.
Kritik terhadap sebagian sahabat tidak berarti meruntuhkan agama. Para sahabat berbeda pendapat, bahkan berperang, karena masing-masing menafsirkan ajaran Nabi sesuai dengan konteks, kepentingan, dan persepsi mereka. Penilaian terhadap tindakan sahabat seharusnya dilakukan dengan pendekatan historis yang adil dan berdasarkan sumber primer yang sahih dan teruji.
Peristiwa seperti pembunuhan Utsman, Perang Jamal, Perang Shiffin dan Karbala harus diletakkan dalam kerangka sejarah politik, bukan sebagai perang antara kebenaran mutlak dan kebatilan absolut. Kita tidak perlu mempersonifikasi iblis dalam sosok Abdullah bin Saba atau menabukan kritik terhadap para sahabat. Tapi kita juga tidak boleh menghujat mereka sembarangan. Kritik harus dilakukan untuk membangun kesadaran sejarah dan etika politik dalam Islam, bukan untuk mencabik-cabik persaudaraan umat.
Penutup
Sejarah adalah ladang pembelajaran. Ia bukan kitab suci, tetapi hasil tafsir manusia terhadap peristiwa-peristiwa kompleks. Jangan menjadikan mazhab sebagai tembok sombong yang menutup diri dari kebenaran. Agama bukan warisan eksklusif para penguasa dan ustadz viral. Ia adalah panggilan hati nurani untuk mencari kebenaran dengan jujur.
Daftar Referensi:
1. Wilferd Madelung. Suksesi Kepemimpinan Nabi: Kajian tentang Kekhalifahan Awal. Terj. Farid Wajdi. Jakarta: Serambi, 2003.
Mengupas konflik pasca wafatnya Nabi Muhammad dan ketegangan antara klaim Ali bin Abi Thalib dan kekuasaan Abu Bakar.
2. Sayyid Murtadha al-Askari. Abdullah bin Saba dan Legenda-Legenda Sejarah Lainnya. Jakarta: Pustaka Hidayah, 1996.
Menganalisis secara kritis keberadaan Abdullah bin Saba dalam literatur klasik dan mempertanyakan validitasnya.
3. Murtadha Mutahhari. Tragedi Karbala: Antara Mitos dan Fakta Sejarah. Jakarta: Lentera, 2005.
Mengulas cara sebagian kalangan menyimpangkan makna historis tragedi Karbala dan ajaran Imam Husain.
4. Muhammad Husain al-Mudhafar. Akidah Syiah Imamiyah. Terj. M. Ridwan, 2002.
Buku pegangan dasar Syiah Imamiyah yang menjelaskan fondasi teologis dan historis keimanan Syiah terhadap Imamah.
5. Khalid Abou El Fadl. Menyingkap Kepalsuan Salafi-Wahabi: Mencari Islam yang Ramah dan Toleran. Terj. Saifuddin Zuhri Qudsy. Yogyakarta: LKIS, 2007.
Mengkritisi manipulasi ajaran Islam oleh kelompok ekstremis dan pentingnya membaca sejarah secara kritis.
6. Mahmoud Ayoub. Pengorbanan dan Kesyahidan dalam Islam: Studi Devosi atas Peristiwa Asyura. Terj. Syamsul Hadi. Bandung: Mizan, 2001.
Menggambarkan makna spiritual dan historis tragedi Karbala dalam tradisi Syiah Imamiyah.
7. Marshall G.S. Hodgson. Petualangan Islam: Sejarah Peradaban Islam dalam Tiga Jilid. Terj. Arif Rahman Hakim. Jakarta: Serambi, 2005.
Menyediakan konteks luas tentang dinamika kekuasaan, ideologi, dan warisan politik dunia Islam sejak awal.
8. Haidar Bagir. Islam Tuhan Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau. Bandung: Mizan, 2017.
Mengangkat pentingnya pendekatan kritis dan spiritual terhadap ajaran Islam, termasuk sejarah dan mazhab.
Editor : Bahana.