Pemerhati Sosial, Politik dan Hukum
Di tengah panasnya konflik di Timur Tengah, satu fakta tak terbantahkan menyembul ke permukaan: hanya Iran yang secara terbuka dan nyata meluncurkan serangan rudal langsung ke wilayah Israel.
Bukan slogan, bukan unjuk rasa, bukan sekadar doa bersama. Ini adalah konfrontasi militer langsung—yang untuk sebagian orang, justru menimbulkan kecurigaan alih-alih pengakuan.
Ironisnya, Iran adalah negara Syi’ah. Dalam banyak ceramah, buku, dan fatwa yang beredar di kalangan Islam Sunni—terutama dari mazhab Wahabi dan Sunni Konservatif —Syi’ah dianggap sesat, bahkan kafir.
Dalam kerangka inilah kebutaan terhadap realitas mulai tampak: banyak yang masih percaya bahwa perang Iran–Israel hanyalah “sandiwara”, bahwa rudal dan drone itu hanya trik politik untuk memancing negara-negara Arab Sunni, seperti Saudi dan Mesir, agar terlibat perang. Atau lebih gila lagi: bahwa Iran akan menyerang negara-negara tersebut setelah Israel jatuh.
Cara berpikir seperti ini tak hanya absurd, tetapi juga berbahaya.
Realitas Rudal dan Korban Sipil
Dalam seminggu terakhir (13–16 Juni 2025), Iran membalas serangan Israel ke fasilitas nuklir Natanz dan Isfahan dengan meluncurkan lebih dari 150 rudal balistik dan 100 drone ke wilayah Israel, menyerang kota-kota seperti Tel Aviv, Haifa, dan pangkalan militer di Negev. Ini adalah bagian dari operasi militer Iran yang disebut “True Promise III.” Tak kurang dari 30 orang tewas dan lebih dari 200 luka-luka di pihak Israel—termasuk warga sipil.
Peristiwa ini bukan khayalan. Ini tercatat oleh media global, satelit intelijen, dan lembaga riset independen. Namun sebagian dari umat Islam masih memilih untuk percaya pada teori konspirasi sektarian yang menyebut semua itu hanyalah permainan teater geopolitik.
Normalisasi Versus Konfrontasi
Konflik ini terjadi dalam konteks yang lebih luas: Abraham Accords yang disepakati oleh UEA, Bahrain, Maroko, dan Sudan untuk menormalisasi hubungan dengan Israel sejak 2020.
Bahkan Arab Saudi secara diam-diam ikut merintis jalur diplomasi yang sama. Di tengah gelombang "damai semu" ini, hanya Iran—dengan segala kekurangannya—yang tetap mempertahankan posisi ideologis: menolak keberadaan negara Israel sebagai penjajah atas Palestina.
Bahkan ketika Hamas—yang berakar dari gerakan Ikhwanul Muslimin Sunni—disokong oleh Iran, sentimen sektarian tetap menolak untuk mengakui kerja sama itu sebagai bentuk solidaritas Muslim lintas mazhab. Kebencian terhadap Syi’ah, bagi sebagian kalangan, ternyata lebih besar daripada kebencian terhadap Zionisme.
Membedakan Fakta dan Fanatisme
Mengapa sulit bagi sebagian umat Islam untuk mengakui realitas ini? Karena dogma sektarian telah menggantikan akal sehat. Karena sejak kecil kita dijejali narasi bahwa Syi’ah adalah musuh dalam selimut, penyusup, penghancur Islam dari dalam.
Maka ketika Syi’ah Iran menunjukkan keberanian yang bahkan tidak dimiliki oleh negara-negara Sunni, narasi tersebut menjadi goyah. Untuk menutupi kegoyahan itu, lahirlah teori-teori pengalihan: bahwa ini hanya akting, bahwa musuh sesungguhnya tetap Iran, bukan Israel.
Namun sejarah dan fakta berkata lain. Sejak Revolusi Islam 1979, Iran telah konsisten menjadikan Hari Quds sebagai simbol dukungan global untuk Palestina. Iran mendanai Hizbullah di Lebanon dan Jihad Islam di Gaza. Bahkan setelah banyak negara Arab mundur dari isu Palestina, Iran tetap berdiri—dengan atau tanpa tepuk tangan dunia Islam.
Sudah Waktunya Umat Islam Dewasa
Kita tak harus menyukai semua kebijakan politik Iran. Tapi kita juga tak boleh menutup mata terhadap peran nyatanya dalam melawan Zionisme.
Dunia Islam tak butuh lagi perang label sesat-mensesatkan yang tak berujung. Kita butuh solidaritas politik yang dibangun di atas tindakan nyata, bukan semata identitas mazhab.
Rudal-rudal Iran yang menghantam jantung militer Israel bukan sekadar simbol kekuatan, tapi juga pengingat: bahwa resistensi terhadap penjajahan masih mungkin, dan masih dilakukan.
Sementara itu, banyak dari kita justru sibuk menuding sesama saudara Muslim hanya karena beda mazhab, sambil berfoto di mal yang dibangun dengan dana hasil kerja sama dengan Israel.
Mungkin sudah saatnya kita bertanya pada diri sendiri: siapa sebenarnya yang sedang bersandiwara?
Editor : Bahana.