RADAR JOGJA - Pagi ini, sebelum matahari benar-benar naik, warga di sejumlah daerah menerima kabar getaran dari dua sumber berbeda. BMKG mencatat gempa tektonik di Wonosobo, Jawa Tengah, lalu disusul gempa dalam berkekuatan lebih besar di sekitar Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Keduanya terjadi pada Sabtu, 12 September 2026, dengan karakter yang tidak sama.
Gempa pertama terjadi pukul 02.43.02 WIB. Hasil analisis terbaru BMKG menunjukkan magnitudo M3.8. Pusatnya berada di darat, tepatnya 17 kilometer arah barat laut Wonosobo. Koordinat episenternya 7,21 LS dan 109,89 BT, dengan kedalaman 12 kilometer.
Karena dangkal dan berada di darat, gempa Wonosobo diduga berkaitan dengan aktivitas sesar aktif. Getarannya dirasakan warga Wonosobo pada skala III MMI. Mereka menggambarkan situasi seperti ada truk berat melintas di dekat rumah. Di Banjarnegara, intensitasnya II-III MMI, sedangkan Batang II MMI; benda ringan yang digantung ikut berayun.
Hingga pukul 03.13.00 WIB, BMKG belum mendeteksi gempa susulan. Laporan kerusakan juga belum muncul. Meski begitu, warga diimbau tetap tenang dan memantau informasi resmi, karena data gempa bisa diperbarui.
Dua jam kemudian, tepatnya pukul 04.23.56 WIB, getaran lain terdeteksi. Kali ini magnitudonya M5.9. Pusat gempa berada di koordinat 5,81 LS dan 106,56 BT, sekitar 6 kilometer tenggara Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Kedalamannya sangat besar: 376 kilometer.
Gempa sedalam itu biasanya berasal dari aktivitas lempeng di bawah permukaan, bukan sesar dangkal. Meski magnitudonya cukup kuat, energi yang sampai ke permukaan bisa terasa lebih halus dan menyebar luas. Itulah sebabnya laporan getaran datang dari banyak kota yang berjauhan.
BMKG mencatat getaran M5.9 dirasakan di Cilacap, Kecamatan Nagrak, dan Kalapanunggal pada skala III MMI. Wilayah Rancaekek, Lembang, Garut, Kota Bandung, Sukabumi, Cianjur, Yogyakarta, Pacitan, Ponorogo, Kabupaten Malang, Kota Bengkulu, Sumur, Padang, Mentawai, Pariaman, dan Solok Selatan merasakan II-III MMI. Sementara Lemong, Semaka, dan Bengkunat berada pada II MMI.
Skala MMI membantu memahami seberapa kuat getaran dirasakan manusia. Pada II MMI, hanya sebagian orang yang merasakan, terutama di dalam ruangan, dan benda ringan yang digantung bisa bergoyang. Pada III MMI, getaran lebih nyata, mirip truk bermuatan yang lewat. Tidak heran jika sebagian warga terbangun atau merasa kepala sedikit pusing.
Baca Juga: Gunung Merapi Masih Bergolak: 141 Kali Gempa dalam Sehari, Status Siaga Dipertahankan
Sampai informasi ini diturunkan, belum ada laporan resmi soal kerusakan akibat gempa M5.9. BMKG juga tidak menyebut adanya peringatan tsunami. Gempa dalam dengan pusat jauh di bawah laut umumnya tidak memicu gelombang besar di pesisir, tetapi kepastian tetap mengacu pada informasi resmi.
Bagi warga Wonosobo, getaran subuh mungkin terasa mengejutkan. Bagi warga Bandung, Yogyakarta, hingga Padang, guncangan M5.9 bisa terasa samar namun cukup membuat orang bertanya-tanya. Respons paling bijak adalah tidak panik, menjauh dari benda yang mudah jatuh, dan memeriksa kondisi keluarga.
Pertanyaan yang sering muncul: apakah dua gempa ini saling berkaitan? BMKG tidak menyatakan demikian. Gempa Wonosobo berkarakter dangkal akibat sesar aktif, sedangkan gempa Kepulauan Seribu berlangsung pada kedalaman ekstrem. Keduanya bisa terjadi pada waktu berdekatan tanpa berarti satu menyebabkan yang lain.
Untuk informasi terbaru, ikuti kanal resmi BMKG: Instagram/Twitter @infoBMKG, situs bmkg.go.id atau inatews.bmkg.go.id, Telegram InaTEWS_BMKG, serta aplikasi wrs-bmkg dan infobmkg. Jangan sebarkan pesan yang belum jelas sumbernya. Tetap siapkan tas siaga, kenali jalur evakuasi, dan jaga komunikasi dengan keluarga.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BMKG