RADAR JOGJA - Baru-baru ini viral sekelompok pendaki nekat menaiki Gunung Merapi yang masih berstatus Siaga Level III.
Sekelompok pendaki kurang lebih sekitar 200 orang nekat menaiki Gunung Merapi via Selo, Boyolali, Jawa Tengah yang dibuka warga lokal.
Tepatnya pada Selasa (30/6/2026).
Sekelompok pendaki itu merupakan warga sekitar lereng Merapi dan warga lokal.
"Alhamdulillah, pendakian dalam rangka persiapan pembukaan jalur pendakian mandiri oleh warga dusun plalangan berjalan dengan lancar. Semoga merapi selalu memberikan keberkahan kepada seluruh warga lereng merapi, dan semoga semua pendaki selalu diberikan keselamatan. Semoga selamat bumi beserta isinya," dalam keterangan akun Instagram @laharbara.
Kegiatan ini lantas menjadi sorotan publik.
Pasalnya, pendakian di Gunung Merapi saat ini masih dilarang.
Meski aktivitas erupsi Merapi dominan mengarah ke sektor barat daya, seperti hulu Kali Bebeng, Kali Sat/Putih, dan Kali Krasak) serta selatan/tenggara (alur Kali Gendol).
Arah sebaran ini dapat berubah sewaktu-waktu bergantung pada arah angin dan morfologi puncak.
Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) meminta warga menjahui zona bahaya, radius tiga kilometer dari puncak Merapi demi keselamatan.
Menanggapi pembukaan jalur pendakian Merapi, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) pada 30 Juni 2026 melayangkan surat dan memberikan penjelasan.
Berdasarkan surat Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Nomor: 271/45/BGV.KG/2018 tanggal 21 Mei 2018 menyebutkan bahwa pada 5 November 2020 status aktifitas Gunung Merapi ditingkatkan dari level II (Waspada) menjadi level III (Siaga).
Kemudian sebagaimana tercantum dalam surat Kepala PVMBG Nomor: 523/45/BGV.KG/2020 tanggal 5 November 2020, menyampaikan beberapa poin penting.
Salah satu poinnya, merekomendasikan agar radius 3 Km dari puncak Gunung Merapi dikosongkan dari aktivitas penduduk, termasuk aktivitas pendakian.
Editor : Meitika Candra Lantiva