Gelombang panas, hujan lebat, banjir, hingga kekeringan panjang kerap dikaitkan dengan dua fenomena iklim global, yaitu El Nino dan La Nina.
Secara ilmiah, El Nino dan La Nina merupakan bagian dari sistem iklim global yang dikenal sebagai ENSO (El Niño–Southern Oscillation).
Dilansir dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang menyebabkan melemahnya angin pasat.
Baca Juga: Dulu Dianggap Mistis, Kini Praktik Hipnoterapi Diakui Ilmiah dan Disertifikasi di UGM
Kondisi ini memicu perubahan besar pada pola cuaca global, termasuk pergeseran curah hujan dan peningkatan suhu udara di sejumlah wilayah dunia.
Sebaliknya, La Nina merupakan fase pendinginan dari fenomena yang sama.
Dalam kondisi La Nina, suhu permukaan laut di Pasifik menjadi lebih dingin dari normal, angin pasat menguat, dan distribusi hujan global kembali berubah.
Wilayah yang biasanya kering bisa menjadi lebih basah, sementara wilayah lain justru mengalami anomali cuaca yang berbeda dari pola normalnya.
Dampak El Nino dan La Nina bersifat global. El Nino sering dikaitkan dengan kekeringan di kawasan Asia Tenggara dan Australia, sementara Amerika Selatan mengalami peningkatan curah hujan.
La Nina cenderung membawa hujan lebih lebat di Asia Tenggara dan meningkatkan risiko banjir di berbagai negara tropis.
Perubahan ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh suhu laut terhadap sistem iklim dunia.
Bagi Indonesia, dampak El Nino dan La Nina memiliki pola waktu yang relatif dapat diprediksi secara klimatologis.
El Nino umumnya mulai berkembang pada pertengahan tahun, dengan dampak paling terasa pada Agustus hingga Oktober, ketika musim kemarau mencapai puncaknya.
Pada periode ini, curah hujan cenderung berada di bawah normal, suhu udara meningkat, dan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan ikut naik.
Kondisi tersebut kerap berdampak pada sektor pertanian, ketersediaan air bersih, hingga kualitas udara di sejumlah wilayah.
Sebaliknya, La Nina biasanya muncul setelah fase El Nino melemah atau pada tahun-tahun tertentu tanpa El Nino yang kuat.
Dampaknya di Indonesia paling sering terasa pada akhir tahun hingga awal tahun berikutnya, terutama sekitar November hingga Februari, bertepatan dengan musim hujan.
Baca Juga: Wedang Ereng-Ereng, dari Pundong, Bantul, Mirip Wedang Uwuh, Lahir dari Luka dan Kesetiaan
Pada fase ini, curah hujan meningkat di atas normal, sehingga risiko banjir dan longsor menjadi lebih tinggi, khususnya di wilayah rawan bencana dan daerah dengan tata kelola lingkungan yang belum optimal.
Berdasarkan pola yang disampaikan oleh BMKG, kedua fenomena ini tidak selalu terjadi setiap tahun, namun ketika muncul, dampaknya cenderung meluas dan berlangsung selama beberapa bulan.
Karena itu, informasi mengenai waktu kemunculan El Nino dan La Nina menjadi penting sebagai dasar perencanaan, baik untuk sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, maupun kesiapsiagaan bencana.
Penulis: Ferry Aditya
Editor : Bahana.