Bulan suci Ramadan digadang-gadang sebagai bulan yang dinantikan oleh seluruh umat Islam.
Bagaimana tidak, pada bulan ini seluruh ibadah yang dilakukan akan mendapatkan pahala yang dilipatgandakan.
Bulan Ramadhan pula hanya dapat ditemui sekali dalam satu tahun berdasarkan kalender hijriyah, setelah bulan Syaban.
Penentuannya berdasarkan kalender masehi tidak menentu sehingga bulan Ramadhan dapat terjadi di awal tahun, pertengahan tahun, bahkan akhir tahun.
Pada bulan ini, para umat Islam akan menjalankan puasa, tidak makan dan tidak minum, dari azan subuh hingga azan maghrib.
Meskipun begitu ada pengecualian yang bagi orang-orang yang memenuhi syarat untuk diperbolehkan tidak berpuasa.
Orang-orang dengan keadaan berikut diperbolehkan tidak menjalankan puasa di bulan Ramadan.
1. Orang yang sudah sakit menahun dan tidak diharapkan kesembuhannya.
2. Musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan jauh.
3. Orang tua renta yang sudah tidak sanggup berpuasa.
4. Perempuan yang haid dan nifas.
5. Orang gila.
6. Ibu hamil dan menyusui.
7. Anak kecil.
Dari ketujuh orang-orang tersebut, ada beberapa kelompok yang wajib mengganti puasanya di kemudian hari.
Utang puasa ini dijatuhkan kepada orang sakit, musafir, perempuan haid atau nifas, dan wanita hamil atau menyusui.
Sedangkan orang tua yang sudah renta dan orang yang memiliki sakit kronis diperbolehkan tidak mengganti utang puasanya.
Utang puasa ini wajib diqadha (diganti) sesuai fiqih Islam yang ditunaikan sebelum datangnya bulan Ramadhan berikutnya.
Dalam mengqadha puasa Ramadhan, orang-orang yang memiliki hutang dapat melaksanakannya secara bebas kecuali pada tanggal 1 Syawal (hari raya Idul Fitri), 10 Dzulhijjah (hari raya Idul Adha), dan tanggal 11, 12, serta 13 Dzulhijjah (hari Tasyrik).
Pertengahan bulan Februari ditetapkan sebagai awal bulan Ramadhan, maka sudahkah kamu bayar hutang puasamu?
Penulis: Hanifah Fajri Nurhikmah
Editor : Bahana.