Kelapa sawit merupakan tanaman yang bukan asli Indonesia, melainkan berasal dari wilayah pesisir barat Afrika, di mana masyarakat setempat telah memanfaatkan minyaknya sejak ribuan tahun lalu, bahkan ditemukan sisa minyak sawit di makam Mesir Kuno sekitar 3000 SM.
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas yang sangat penting bagi Indonesia. Negara ini juga menjadi produsen minyak sawit mentah terbesar di dunia, melebihi Malaysia sejak tahun 2006.
Menurut Badan Pusat Statistik, luas lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia sudah mencapai lebih dari 16 juta hektare.
Sejarah dan Asal-Usul Kelapa Sawit
Nama latin kelapa sawit adalah Elaeis guineensis. Tanaman ini berasal dari Afrika, khususnya daerah hutan tropis di bagian barat Afrika.
Sebelum menyebar ke seluruh dunia, kelapa sawit ditemukan di wilayah seperti Selatan Kamerun, Pantai Gading, Ghana, Liberia, Nigeria, Sierra Leone, Togo, hingga daerah khatulistiwa di Angola dan Kongo.
Meskipun berasal dari Afrika, kelapa sawit sekarang lebih dikenal sebagai tanaman yang ditanam di kawasan Asia Tenggara.
Masyarakat Afrika sudah mengolah buah kelapa sawit selama ribuan tahun.
Minyak yang dihasilkan memiliki warna merah pekat dan aroma yang kuat, serta digunakan dalam berbagai masakan tradisional di Afrika Barat.
Meski cara pengolahannya relatif sederhana, metode tersebut memakan tenaga dan tidak efisien.
Minyak sawit alami mengandung karotenoid, pigmen yang menyebabkan warna merah tua pada minyak.
Komponen utama dalam gliseridanya adalah asam lemak jenuh palmitat, sehingga minyak sawit memiliki tekstur kental dan semi-padat, bahkan di iklim tropis. Di daerah yang lebih dingin, minyak sawit akan menjadi lebih padat.
Sejarah Kelapa Sawit di Indonesia
Pada masa abad ke-14 hingga ke-17, buah kelapa sawit mulai diperkenalkan dari Afrika. Awalnya ke Amerika, lalu ke wilayah Timur Jauh.
Menariknya, tanaman ini tumbuh lebih baik di wilayah Asia, khususnya Asia Tenggara, yang akhirnya menjadi pusat produksi kelapa sawit secara komersial yang paling besar, jauh dari tempat asalnya, Afrika Barat.
Karena nilai ekonominya yang tinggi sebagai sumber minyak nabati dan minyak teknis, kelapa sawit kemudian dikembangkan sebagai tanaman perkebunan di berbagai negara tropis.
Kelapa sawit menghasilkan buah yang beratnya berbeda-beda, mulai dari 10 hingga 40 kilogram. Setiap buahnya cukup kecil, sekitar 6 hingga 20 gram.
Buah ini memiliki struktur tiga lapisan, yaitu lapisan luar yang disebut eksokarp, lapisan tengah yang terdiri dari daging buah berserat yang mengandung minyak sawit, dan lapisan terluar yang keras bernama endokarp, yang berfungsi melindungi inti buah.
Inti buah sawit juga memiliki minyak, tetapi sifatnya berbeda dan lebih mirip dengan minyak kelapa. Karena nilai ekonominya yang tinggi, orang Belanda membawa tanaman ini untuk ditanam di wilayah koloninya, yaitu Hindia Belanda.
Dalam sejarah pertanian kelapa sawit di Indonesia, tanaman ini pertama kali ditanam di Nusantara pada tahun 1848 di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, dari empat batang pohon yang dibawa dari Amsterdam.
Perkebunan kelapa sawit menjadi yang paling diminati selama masa Orde Baru dan luasannya terus bertambah hingga saat ini.
Dalam lima puluh tahun terakhir, produksi minyak sawit secara global mengalami peningkatan yang sangat besar.
Penulis: Ocha
Editor : Bahana.