RADAR JOGJA - Setelah hampir satu abad beroperasi di Indonesia, PT Sepatu Bata Tbk resmi menghentikan kegiatan produksi alas kaki.
Keputusan ini diambil setelah perusahaan mengalami kerugian berkelanjutan dalam beberapa tahun terakhir.
Langkah penghentian produksi disahkan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 25 September 2025.
Dalam rapat tersebut, pemegang saham menyetujui perubahan Anggaran Dasar Perseroan, khususnya Pasal 3, yang menghapus kegiatan usaha industri alas kaki untuk kebutuhan sehari-hari.
Sebelumnya, pabrik utama Bata di Purwakarta, Jawa Barat, telah resmi ditutup pada April 2024.
Penutupan pabrik ini berdampak pada pemutusan hubungan kerja terhadap lebih dari dua ratus karyawan.
Manajemen menyebut keputusan ini diambil akibat terus menurunnya permintaan pasar dan meningkatnya biaya operasional.
Selain itu, persaingan dengan produk impor juga menekan performa penjualan.
Laporan keuangan semester I-2025 menunjukkan perusahaan mencatat kerugian hingga Rp 40,62 miliar, atau turun hampir 39 persen dibanding periode sebelumnya.
Meski menghentikan produksi, Bata Indonesia memastikan tetap melanjutkan kegiatan bisnis di sektor ritel dan distribusi.
Produk alas kaki yang dijual di pasar nantinya akan diperoleh dari pihak ketiga sebagai pemasok.
Bata pertama kali hadir di Indonesia pada era kolonial, sekitar tahun 1931.
Didirikan oleh Tomas, Anna, dan Antonin Bata di Zlín, Cekoslowakia, pada 1894, merek ini berkembang pesat hingga menjadi simbol sepatu rakyat di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Penutupan pabrik di Purwakarta menjadi akhir dari kiprah panjang Bata sebagai produsen lokal yang pernah berjaya di Tanah Air. (Silvia Oktaviani)