Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Etanol dalam BBM, Aman atau Tidak? Alasan SPBU Swasta Ogah Serap Pasokan dari Pertamina

Bahana. • Jumat, 3 Oktober 2025 | 22:40 WIB
Ilustrasi SPBU Pertamina.
Ilustrasi SPBU Pertamina.

RADAR JOGJA - Belakangan ini mencuat kabar bahwa sejumlah SPBU swasta, seperti PT Vivo Energy Indonesia (Vivo) dan BP-AKR (BP) kompak menolak membeli pasokan base fuel impor yang disediakan Pertamina.

Diketahui, alasan di balik adalah penolakan adanya kandungan etanol sekitar 3,5 persen di bahan bakar tersebut.

Penolakan ini menimbulkan tanya, apakah benar etanol berbahaya bagi kendaraan?

SPBU swasta menyebut kandungan etanol pada BBM tidak sesuai standar internal yang mereka terapkan.

Akibatnya, ada sekitar 60.000 barel dari total 100.000 barel pasokan base fuel yang seharusnya diserap akhirnya digunakan oleh Pertamina sendiri.

Sementara, Pertamina menjelaskan bahwa pencampuran etanol meskipun angka 3,5% ke dalam bahan bakar masih jauh di bawah batas regulasi nasional (E20) dan merupakan praktik lazim di industri migas global Bahkan.

Di sejumlah negara maju, etanol sudah lama dipakai sebagai aditif untuk meningkatkan kualitas pembakaran sekaligus menurunkan emisi.

Apa Itu Etanol dan Mengapa dicampurkan ke BBM?

Etanol merupakan alkohol (C₂H₅OH) yang diproduksi dari biomassa dan penyulingan tebu, molase, atau biji-bijian bertepung seperti singkong dan jagung.

Bahan bakar etanol digadang-gadang sebagai opsi energi hijau, selain ramah lingkungan karena menekan emisi, etanol juga berperan dalam menekan konsumsi bahan bakar fosil yang ketersediaannya semakin terbatas.

Di banyak negara, bensin dan bahan bakar bercampur etanol sudah lazim dengan label E5 (5% etanol), E10 (10%), bahkan E20. Tujuannya bukan hanya memperbaiki kualitas mesin, tetapi juga mengurangi emisi gas buang.

Resiko Etanol pada Mesin Kendaraan

Meskipun memberikan manfaat sebagai peningkat oktan dan energi yang lebih ramah lingkungan, etanol juga membawa tantangan teknis berupa potensi kerusakan sistem bahan bakar, terlebih pada kendaraan generasi lama dan infrastruktur yang belum dirancang untuk itu.

1. Resiko Korosi dan degradasi material

Etanol merupakan aditif yang bersifat higroskopis atau mudah menyerap air dari udara, jika tangki atau saluran bahan bakar terbuat dari material yang tidak tahan alkohol, maka berpotensi menimbulkan korosi, mempercepat pengkaratan pada komponen logam di dalam tangki, saluran bahan bakar, dan pompa bensin.

2. Pengaruh Jarak Tempuh

Molekul etanol yang mengandung nilai energi lebih rendah daripada bensin murni, dapat mengurangi jarak tempuh kendaraan, sebab mesin harus menyuntikkan volume bahan bakar lebih banyak untuk menghasilkan tenaga yang serupa dengan bensin. Hal itu menyebabkan konsumsi bahan bakar sedikit lebih boros.

3. Pengaruh Performa Mesin

Campuran etanol rendah, seperti E5 atau E10 umumnya relatif aman, bahkan bisa membuat pembakaran lebih bersih.

Namun jika kadar etanol terlalu tinggi dan mesin tidak dirancang untuk itu, maka bisa memicu penurunan performa mesin.

Penolakan SPBU swasta terhadap impor BBM dari Pertamina lebih terkait standarisasi internal dan kekhawatiran jangka panjang, bukan karena etanol 3,5% otomatis berbahaya. Dari sisi teknis, kadar tersebut relatif aman dan lazim digunakan di banyak negara.

Meski begitu, faktor penting yang harus dijaga adalah konsistensi kualitas distribusi, penyimpanan bahan bakar, serta kesiapan material tangki dan sistem bahan bakar kendaraan.

Penulis: Ayu Andayani Saputri

Editor : Bahana.
#BBM #pertamina #etanol