RADAR JOGJA - Keribuatan yang melibatkan keluarga pasien dan dokter Syahpri yang bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sekayu Musi Banyuasin, Sumatera Selatan beberapa waktu lalu menjadi viral.
Dalam unggahan video viral menunjukkan keluarga pasien terlibat cekcok dengan dokter kemudian memaksa sang dokter membuka maskernya di ruangan rumah sakit.
Pada Kamis (14/8/2025), pihak keluarga pasien memberikan klarifikasi terkait kejadian tersebut.
Klarifikasi dari keluarga Pasien
Seperti yang dibagikan dalam akun TikTok @pesonamuba bahwa salah satu pihak keluarga pasien mengklarifikasi bahwa Keluarga Pasien sudah menunggu tindakan kepada pasien sudah sejak Hari Sabtu lalu.
Namun selama tiga hari tindakan tersebut belum dilakukan.
Hingga akhirnya pada Hari Selasa (12/8/2025) keluarga pasien baru bertemu dengan dokter itu.
Lantas pihak keluarga geram.
“Sedangkan Ibu saya sudah dari Hari Sabtu, Namun sayang baru bisa dilakukan pengecekan Laboratorium tu di Hari Selasa. Setelah jadi pascanya,” ungkap seorang pria yang merupakan keluarga pasien.
“Saya emosional disitu,” tambahnya.
Ia mengaku kecewa karena telah menempati ruang VIP namun merasa pelayanan tidak sesuai harapan.
“Lalu Pak Syahpri tu bilang kamu harus bersyukur sabar, kan saya ga marah disitu kenapa saya suruh sabar suruh bersyukur disitu emosi saya memuncak,” ujarnya.
Ketika konflik sedang terjadi Dokter tersebut menyuruh salah satu perawat untuk merekamnya.
Seketika itu juga keluarga pasien pun ikut merekam hal tersebut agar tidak terjadi kesalah pahaman.
“Nah dari situ saya langsung mengambil handphone videokan saya takut hal semacam ini terjadi viral. Takutnya sepenggal video yang didapat oleh pihak Pak Syahpri ini tadi,” ungkapnya.
Namun akhir nya keluarga pihak pasien meminta maaf kepada dokter tersebut.
Klarifikasi pihak dokter
Menanggapi hal tersebut Dokter Syahpri menjelaskan bahwa semenjak dalam tiga hari tersebut pasien telah ditangani dan telah diperiksa secara lanjut dengan rontgen.
Melalui rontgen tersebut terlihat implikasi seperti penyakit TBC, sehingga diperlukan tes dahak untuk memastikan diagnosis.
Ia menjelaskan bahwa jika pasien tersebut positif TBC maka harus berada di ruang khusus atau ruang isolasi.
“Nah jadi ditempatkan di situ. Nah dia bisa pindah kalo memang hasil dari dahaknya itu dinyatakan negatif, nah itu dia bingung kok hanya nunggu dahak saja. Karena memang itu diagnosisnya,” ungkap Dokter Syahpri.
Dokter Syahpri menjelaskan bahwa pengecekan diagnosis TBC ada cara lain, namun dengan pengambilan sampel dahak adalah acara yang paling valid.
“Nah jadi harus menunggu nah dia tidak mau nunggu, dia marah marah segala macam saya jelaskan tetep mental itu.”
Puncak dari konflik tersebut mengakibatkan keluarga pasien menjadi emosi kepada dokter itu hingga memaksa nya untuk melepaskan masker yang termasuk penyerangan secara verbal hingga menyebut dirinya gila.
“Terjadi sampe ancaman, verbal sampe bilang saya gila…” ujarnya.
Berakhir damai
Konflik ini pun akhirnya diselesaikan secara damai di hadapan oleh media, staf dan karyawan rumah sakit.
Keluarga pasien dan dokter Syahpri pun saling menjabat tangan, sebagai tanda berdamai. (Safira Ratih N)
Editor : Meitika Candra Lantiva