RADAR JOGJA - Pelajar bermasalah di sekolah akan diberikan pembelajaran khusus sebagai bentuk edukasi dan kedisiplinan.
Kebijakan ini berlaku di Provinsi Jawa Barat dan telah diterapkan di sejumlah sekolah.
Meski begitu, tidak semua pelajar bermasalah bisa mendapatkan pembinaan di barak militer.
Melainkan ada kriteria tertentu.
Sebagaimana dijelaskan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melalui kanal YouTube pribadinya.
Dedi menjelaskan bahwa program pendidikan di barak ditujukan secara khusus bagi anak-anak yang menunjukkan kecenderungan terhadap tindakan kriminal serta berasal dari keluarga yang sudah tidak mampu memberikan pembinaan di rumah.
“Ya, kriteria itu adalah anak-anak yang sudah mengarah pada tindakan-tindakan kriminal, dan orang tuanya tidak punya kesanggupan untuk mendidik. Artinya bahwa yang diserahkan itu adalah siswa yang oleh orang tuanya di rumahnya sudah tidak mau lagi, tidak mampu lagi untuk mendidik,” ujar Dedi dilansir melalui kanal YouTube pribadinya, KANG DEDI MULYADI CHANNEL.
Ia menambahkan, partisipasi dalam program ini bersifat sukarela.
Penyerahan pelajar dilakukan atas dasar inisiatif orang tua dan melalui koordinasi dengan instansi terkait.
“Jadi kalau orang tuanya tidak menyerahkan, kita tidak akan menerima,” tegasnya.
Sebagai catatan, program pendidikan di barak ini telah diterapkan di Kabupaten Purwakarta pada Kamis (1/5/2025).
Sebanyak 39 pelajar saat ini mengikuti pendidikan dan pembinaan di Resimen Artileri Medan Sthira Yudha Kostrad, yang berlokasi di Desa Ciwangi, Kecamatan Bungursari.
Sementara itu, di Kota Bandung, sebanyak 30 pelajar juga telah bergabung dalam program serupa.
“Purwakarta sudah memulai kemaren. Itu kan orang tuanya datang ke Dinas Pendidikan kemudian ke bupati, kemudian berkumpul di Kodim, kan langsung dimasukin ke barak Sthira Yudha ya, Resimen 1 Stira Yudha Konstrad,” jelas Dedi.
Program pendidikan di barak ini merupakan salah satu bentuk respons pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap meningkatnya kekhawatiran masyarakat mengenai kenakalan remaja.
Dengan pendekatan berbasis disiplin dan pembinaan karakter, pemerintah berharap dapat memberikan solusi alternatif yang efektif serta mendukung keluarga dalam proses pendidikan anak. (Fadel Muhammad)