RADAR JOGJA - Perayaan Tahun Baru Imlek menjadi momen yang dinantikan masyarakat Tionghoa di seluruh dunia.
Rumah-rumah dihias dengan ornamen berwarna merah, yang melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan kemakmuran.
Tradisi ini berasal dari kebudayaan Tionghoa kuno dan dikenal sebagai “Chun Jie,” yang berarti Festival Musim Semi.
Perayaan Imlek mengikuti kalender bulan Tionghoa, sehingga jatuh pada hari yang berbeda setiap tahunnya, biasanya antara akhir Januari hingga pertengahan Februari.
Tradisi ini diyakini telah berlangsung lebih dari 4.000 tahun sejak era Dinasti Shang, awalnya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, dewa, dan alam semesta.
Kini, Imlek menjadi hari spesial untuk memperkenalkan budaya Tionghoa kepada dunia.
Legenda Nian di Balik Kemeriahan Imlek
Imlek identik dengan petasan, warna merah, dan suara meriah.
Tradisi ini berakar dari legenda makhluk mitologi bernama Nian, yang diyakini muncul setiap tahun baru untuk menakut-nakuti manusia.
Untuk mengusir Nian, masyarakat menggunakan petasan, suara keras, dan warna merah, simbol keberanian dan perlindungan.
Kue Keranjang: Kudapan Wajib Imlek
Kue keranjang, atau “Nian Gao,” menjadi elemen wajib setiap Imlek. Dalam bahasa Tionghoa, “Nian Gao” berarti “tahun lebih tinggi,” melambangkan peningkatan rezeki dan kemakmuran.
Tekstur lengketnya melambangkan eratnya hubungan keluarga, sedangkan rasa manisnya menjadi doa untuk kehidupan yang lebih baik.
Kue ini biasanya disusun bertingkat, simbol keberuntungan yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Selain menjadi kudapan, kue keranjang juga digunakan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Barongsai: Tarian Singa Pembawa Keberuntungan
Barongsai, yang berarti tarian singa, merupakan seni pertunjukan khas Tionghoa yang telah ada lebih dari 1.000 tahun.
Seni ini pertama kali tercatat pada masa Dinasti Tang (618–907 M). Barongsai dipercaya membawa keberuntungan sekaligus mengusir roh jahat.
Dalam budaya Tionghoa, singa melambangkan kekuatan dan keberanian.
Gerakan penari barongsai yang penuh energi mencerminkan harmoni dan keseimbangan dalam kehidupan.
Sejarah Imlek di Indonesia: Dari Larangan hingga Kebebasan
Imlek mulai diperkenalkan di Indonesia pada abad ke-15 oleh imigran Tionghoa, seiring berkembangnya perdagangan antara Nusantara dan Tiongkok.
Namun, pada masa Orde Baru, perayaan ini dilarang melalui Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967.
Larangan tersebut dicabut pada tahun 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid, mengembalikan hak masyarakat Tionghoa untuk merayakan Imlek secara terbuka.
Pada tahun 2003, Presiden Megawati Soekarnoputri menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional.
Kini, perayaan Imlek di Indonesia tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur, tetapi juga simbol kebhinekaan.
Imlek menjadi ajang untuk memperkenalkan dan merayakan kekayaan budaya Tionghoa di tengah masyarakat yang majemuk. (Sulthan Zidan)