RADAR JOGJA - Organisasi pecinta hewan, People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) menyayangkan kematian kelima harimau di Medan Zoo dalam rentang beberapa bulan singkat ini. Senior Vice President PETA Jason Baker pun membandingkan manusia yang dipaksa hanya di rumah saja saat lockdown Covid-19 lalu.
"PETA mendorong masyarakat untuk mengingat kembali masa-masa lockdown pandemi dan mempertimbangkan rasanya jika mereka yang terpenjara seumur hidup," tuturnya dalam rilis Selasa (20/2).
PETA pun mengajak masyarakat untuk tak mengunjungi Medan Zoo. Dengan menghindari tempat-tempat ini, konsumen dapat mewujudkan masa depan yang lebih welas asih serta menghentikan eksploitasi harimau dan hewan-hewan lainnya dalam kekangan, sangkar, kandang, maupun akuarium.
Seumur hidupnya dipaksa hidup dalam penjara, kata dia, para harimau ini menderita dalam kurungan kandang sempit, pola makan tidak alami, serta kehidupan sosial dan penanganan veteriner yang tidak memadai. "Menyedihkan sekali mengetahui bahwa makhluk sosial yang cerdas ini tidak diberi akses terhadap segala yang penting bagi mereka, mulai dari memilih pasangan hingga menjelajah dengan bebas," jelasnya.
Di habitat alaminya, harimau bisa menjelajahi teritori hingga 1,000 km2 di lingkungan yang dinamis dan kompleks secara spasial, sebuah perbandingan kontras dengan kandang hampa yang mengurung mereka di Medan Zoo.
Keputusan kejam untuk menempatkan mereka di habitat buatan yang luasnya hanya secuil dari hamparan tempat tinggal alaminya membuat mereka mengalami stress kronis, kekurangan aktivitas, serta tekanan psikologis, tercermin dari perilaku stereotipikal yang ditunjukkan banyak harimau dalam kurungan, seperti mondar-mandir berulang di kandang.
PETA siap menolong Medan Zoo memindahkan delapan harimau lainnya yang masih tersisa sebelum terlambat, termasuk beberapa yang dilaporkan dalam kondisi sakit berat. Suaka akan mampu menyediakan perawatan medis yang amat sangat mereka butuhkan, serta habitat luas yang lebih alamiah di mana mereka bisa menjelajah dan mengekspresikan perilaku alaminya.
Editor : Heru Pratomo