RADAR JOGJA - Aktivitas atau gerakan yang mengarah ke lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) marak di media sosial. Bahkan, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Klaten temukan enam akun yang terindikasi mengarah aktivitas tersebut.
Sekretaris KPA Klaten Ronny Roekmito mengatakan, akun medsos itu ditemukan kira-kira sebulan lalu. Penggunaan nama akun pun beragam dan memiliki ratusan hingga ribuan pengikut.
“Kami terkejut dengan jumlah anggotanya semakin hari semakin banyak," ucap Ronny dikutip dari Jawa Pos Radar Solo, Jumat(25/8/2023).
Berdasarkan data dari KPA Klaten, temuan kasus HIV di Klaten sudah mencapai 143 kasus. Jumlah ini mengalami kenaikan 100 persen sejak pertama kali dilakukan pendataan kasus HIV/AIDS di Klaten pada 2007.
“Jadi peningkatan LSL menjadi indikasi peningkatan LGBT. Peningkatan kasus HIV dari LSL. Itu saat pandemic kemarin. Hampir semua daerah, saat pandemic kasus LSL naik semua,” terang Ronny.
Indikasi menguatnya gerakan LGBT sebagaimana tampak pada akun medsos yang dipantau oleh KPA Klaten. Ronny menilai, LGBT bukan sekadar penyimpangan perilaku seksual tetapi juga mencari legalitas. Saat ini di sejumlah negara pernikahan sesama jenis sudah dilegalkan.
Dalam rangkan mencegah kasus HIV/AIDS di Klaten, KPA belakangan gencar melakukan sosialisasi yang menyasar kepada orang tua hingga sekolah. Termasuk sosialisasi kepada para guru Bimbingan Konseling (BK) SMP/MTS di Klaten.
“Kami sangat berharap guru BK bisa memberi tahu kepada siswa mereka dengan membekali pengetahuan tentang bahaya HIV/AIDS maupun LGBT. Jadi bisa ikut berperan untuk menanggulangi terutama di kelompok remaja,” ucapnya.
Dia pun mengimbau, kepada orang tua untuk agar mengawasi anak-anaknya. Mulai dari pengawasan penggunaan media sosial hingga lingkungan pergaulannya.
“Pengawasan aktivitas ponsel pada anak itu penting. Beberapa kali sudah kami temui, mereka memiliki aplikasi itu (aplikasi maupun grup medsos yang mengarah pada LGBT, Red). Pintu masuknya di sana,” tambahnya.
Dia pun menambahkan, temuan kasus HIV/AIDS untuk usia remaja belakangan semakin meningkat. "Kami imbau para remaja didampingi dengan baik agar tidak terjerumus pada perilaku seksual yang berisiko tertular HIV," tandasnya. (mel)
Editor : Meitika Candra Lantiva