Lurah Pleret Taufik Kamal mengungkap, lokasi Taman Senja Ngelo dahulunya disebut Pasar Demit. Dalam Bahasa Jawa, pasar demit berarti tempat keramaian atau tempat berkumpulnya makhluk halus. “Keingin dari masyarakat, pasar demit kemudian kami gelar (dibuka untuk dibangun, Red),” bebernya dalam sambutan acara yang berlangsung di Taman Senja Ngelo, Rabu (13/10).
Dikatakan, pembukaan lahan menjadi destinasi wisata merupakan sebuah perjuangan. Sebab komponen yang terlibat harus membersihkan area dari rimbunan batang bambu. “Alhamdulillah dengan support semua, pejuangnya luar biasa. Ditambah, Pleret juga mendapat Dana Keistimewaan Rp 1,5 miliar untuk membuat Gerbang Plered,” paparnya.
Dana tersebut turut digunakan dalam pengembangan obwis penyokong Gerbang Pleret. Di mana salah satu penyokong itu adalah Taman Senja Ngelo, selain adanya Banyu Kencono, Embung Gajah Wong, dan Lereng Sentono. “Taman Senja Ngelo ini salah satu yang sukses dan yang pertama kami buka. Kami mohon dukungan dan demi kesejahteraan masyarakat. Mari berjuang bersama,” imbaunya.
Koordinator Pengelola Taman Senja Ngelo Muhammad Ary S menambahkan, obwis yang dikembangkannya memiliki nilai sejarah. Story telling yang lokasi ini berkisah tentang prajurit Mataram Islam. “Obwis ini dulunya menjadi lokasi tempat para prajurit mataram saat pikirannya ngelu (penat atau pusing). Ke sini untuk melepas pikiran, makanya namanya ngelo. Story telling-nya seperti itu,” jabarnya.
Dipaparkan pula, pembangunan obwis bermula dari sekelompok warga yang berjumlah sepuluh orang. Mereka ingin Pleret semakin dikenal oleh khalayak luas. “Salah satu rekan, Eko menyampaikan bagaimana kalau bergerak di sektor pariwisata, kebetulan kami difasilitasi tanah kas Kalurahan,” jelasnya.
Ketika sepuluh orang pembuka obwis Taman Senja Ngelo mulai diskusi dan berbenah sekitar pertengahan Juli. Lurah Pleret, Taufik Kamal menyambut baik dan memberi arahan. Kemudian terwujudlah obwis yang menawarkan tempat nongkrong dengan suasana syahdu. Ditambah dengan wisata air dan gemerlap lampu yang memancing pengunjung.
Untuk memasuki obwis ini, pengunjung tidak dipungut biaya. Hanya saja, pengelola menyediakan kotak parkir sukarela. Didukung oleh beberapa fasilitas, seperti enam gazebo yang instagramable, dua perahu, dan live music untuk menemani makan. “Kami juga pionir wisata malam perahu. Kami yang pertama memulai. Buka Sabtu-Minggu 06.00-23.00. Hari biasa pukul 16.00-22.00,” bebernya.
Kendati begitu, Ary mengaku obwis yang dikelolanya memiliki pekerjaan rumah (PR). Sebab masalah sampah belum dapat diatasi olehnya. “PR (pekerjaan rumah) di sampah. Tapi untuk potensi sangat luas,” tandasnya. (fat/pra) Editor : Editor Content