Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Perang Israel-AS vs Iran Diprediksi Picu Inflasi di Kota Jogja, BPS Ungkap Komoditas yang Meroket Harganya 

Iwan Nurwanto • Senin, 2 Maret 2026 | 20:15 WIB

DIALOG: Personel Satgas Pangan Polda DIY menanyakan harga minyak goreng saat .pengecekan ketersediaan bahan pokok di Pasar Bendungan Wates, Rabu (18/2/2026).
DIALOG: Personel Satgas Pangan Polda DIY menanyakan harga minyak goreng saat .pengecekan ketersediaan bahan pokok di Pasar Bendungan Wates, Rabu (18/2/2026).

JOGJA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja memprediksi kondisi geopolitik antara Amerika-Israel vs Iran dapat berdampak pada inflasi.

Sebab situasi perang kemungkinan dapat berpengaruh terhadap aktivitas ekspor-impor.

Kepala BPS Kota Jogja Joko Prayitno mengatakan, inflasi dapat terjadi jika situasi perang menghambat distribusi barang dari luar negeri yang masuk ke Indonesia.

Baca Juga: Sebelas Kilometer Tanggul Sungai di Kota Jogja Rusak, Terpanjang di Winongo: Tahun Ini Disasar Perbaikan

Jika hal itu terjadi, maka dapat dipastikan ada kenaikan harga sejumlah komoditas.

Joko mengungkap, minyak merupakan komoditas yang paling terdampak situasi perang. Lantaran Iran dan sejumlah negara di timur tengah merupakan negara pemasok minyak. Termasuk ke Indonesia.

“Di awal bulan ini (Maret) sudah ada tanda inflasi karena harga Pertamax sudah naik. Per satu Maret kalau tidak salah Rp 12.300 per liter, sebelumnya Rp 11.000,” ujar Joko saat ditemui di kantornya, Senin (2/3/2026).

Baca Juga: Mulai Beroperasi di Jalur 14, Masyarakat Bisa Ikut Tumpangi Bus Sekolah Sleman Secara Gratis

Menurutnya, upaya mitigasi yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia saat ini adalah mengendalikan kelompok komoditas bahan pangan yang harganya mudah berfluktuasi (volatile food).

Upayanya dengan operasi pasar atau menambah pasokan agar masyarakat tidak kesulitan untuk mencari bahan pokok.

Kendati begitu, Joko mengakui minyak merupakan komoditas yang tidak bisa dikendalikan karena sangat terpengaruh situasi global.

Baca Juga: Dishub Bantul Akan Sediakan Tujuh Pos Pantau Utama saat Libur Lebaran

Termasuk emas dan tiket pesawat yang juga tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah lokal.

“Tapi pemerintah daerah mungkin masih bisa untuk komoditas beras, dicek ketersediaan dan pasokannya,” beber Joko.

Untuk kondisi di Kota Jogja, Joko mengungkapkan selama periode Februari kategori makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang inflasi paling besar.

Baca Juga: Disdagker Gunungkidul Buka Posko Pengaduan dan KonsultasiTHR hingga 13 Maret 2026, Pembayaran THR Wajib H-7 Lebaran

Angkanya mencapai 0,36 persen dengan penyebab utama kenaikan harga cabai rawit.

Menurutnya, kenaikan cabai rawit di bulan ramadan serta Idul Fitri merupakan siklus tahunan.

Sebab di masa-masa itu permintaan komoditas naik drastis. Namun ketersediaan di pasaran cenderung terbatas.

“Di bulan Ramadan ini mungkin dari sisi demand-nya meningkat, permintaan untuk konsumsi buka puasa dan sebagainya mendorong beberapa komoditas makanan menjadi naik,” jelas Joko. (inu)

 
Editor : Winda Atika Ira Puspita
#ekspor-impor #Kota Jogja #bps #perang Iran AS Israel #inflasi